Kegiatan membaca adalah harga mati bagi para penulis. Barang siapa tidak pernah menyempatkan waktunya untuk menyalin karya tulisan orang lain ke dalam kepalanya, niscaya dirinya tidak akan pernah kaya akan pengalaman, nilai, dan prinsip kehidupan.
Karena, mau bagaimanapun ceritanya, manusia harus terus belajar dan memperkaya dirinya untuk mencapai hakikat sejatinya, yaitu pemimpin dunia. Di mana makna pemimpin dunia di sini tidak bisa diartikan secara sempit, sekadar mengemban jabatan megah dan membangun pundi-pundi kekayaan pribadi. Melainkan, ia merujuk pada kondisi batiniah yang sudah mencapai kesempurnaan hakikinya, ditunjukkan dengan kondisi ril pemiliknya yang sudah menjadi pemimpin di bidangnya.
Para penulis sejati tidak akan menjadikan kekayaan, tahta, dan popularitas sebagai tujuan utama hidup mereka, begitu hemat pikir saya. Kepuasan batiniahlah yang mereka kejar. Keinginan untuk terus menciptakan mahakarya yang berlandaskan esetika dan etika. Diiringi kemauan yang kuat untuk terus menempa diri di saat realitas tidak mendukung, seperti tiada henti menghadapi kegagalan, misalnya. Karena jiwa penulis hidup dari api semangat yang tak akan pernah padam. Dan soal kebutuhan duniawi, itu urusan belakangan (walau meski begitu, yah, tak bisa ditampik juga para penulis perlu mencari sejurus cara untuk menafkahi tubuh mereka dan keluarga mereka).
Dengan demikian, bagaimana pula para penulis bisa mencapai target sebesar itu, bilamana tidak pernah mau belajar? Mahakarya tidak bisa satu malam langsung jadi. Belum lagi, kita belum memvalidasi atau memastukan lebih lanjut, apakah mahakarya kita ternyata sudah dibuat penulis atau pengarang lain. Jika benar sudah terlanjur bangga dan enggan untuk mengembangkan karya lebih lanjut, tak dimungkiri rasa menyesal, malu, dan mencemooh diri akan memburu diri di masa mendatang. Untuk menciptakan mahakarya, perlu rasanya batin terlepas dari segala nafsu, atau istilah mudahnya terlepas — dari kekangan kegelapan yang sejatinya memang akan selalu menyelimuti kalbu manusia tanpa mengenal waktu. Sesudah itu pun, pelakunya perlu dihadapkan langsung dengan berbagai pengalaman empiris. Nah, untuk mempercepat laju itu, sekurang-kurangnya pelakunya perlu membaca berbagai karya penulis lain. Sehingga, pengalaman empirisnya lebih khatam, kaya, dan penuh makna. Mahakarya pun akan tercipta dengan sendirinya, tanpa menafikan jiwa dan semangat penulisnya.
Tidak, tidak. Tidak perlu menunjukkan betapa giatnya diri membaca buku atau karya tulis kepada khalayak dunia. Percaya atau tidak, pembuktian hanya memuaskan diri di beberapa momen saja, selebihnya hati akan kosong melompong. Rasa-rasanya tidak ada semangat lagi, karena pencapaian atau progres tidak dipantau apalagi dipertanyakan orang lain. Maka, bacalah buku untuk diri sendiri, bukan untuk mendapatkan pengakuan. Toh, kualitas mahakarya merupakan pantulan terbaik dari pengalaman dan pengetahuan penulisnya, termasuk dalam hal ini jumlah dan mutu bacaan penulisnya. Tanpa perlu meminta, pembaca akan menilai ketelatenan penulis dari sini — pengakuan paling tulus tanpa ada rasa terpaksa harus menyenangkan penulisnya.
Marilah kita membaca, membaca, dan membaca. Terus berupaya menciptakan mahakarya tulis terbaik: cerminan diri sebagai sejatinya penulis — yang sudah berhasil memimpin dirinya untuk melambung sejauh ini!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar