Kamis, 21 April 2022

RESENSI BUKU #4: Memahami Makna Cinta Sesungguhnya

Novel Debu Cinta Bertebaran
Novel Debu Cinta Bertebaran | Dok. Pribadi

Judul Buku                : Debu Cinta Berdebaran

Penulis                       : Achdiat K. Mihardja

Penerbit                     : BALAI PUSTAKA

Tebal Buku                : 388 halaman

Cetakan                    : Cetakan pertama, tahun 2004


Sinopsis Buku:

Mengambil latar tahun 1960an, seorang tokoh utama berkewarganeraan Indonesia yang bernama Rivai, dihadapkan dengan gegap gempita dunia dalam menyambut perang dan peradaban baru, yang sekurang-kurangnya menjadi topik berulang-berulang dalam buku ini. Di sini pula, terma cinta dan hubungan seksual terus muncul ke permukaan. Secara tidak terduga-duga mempertemukan Deanne, sang pujaan hatinya, di mana keduanya mencoba memahami makna cinta sesungguhnya, dan meresapinya ke dalam kisah cinta mereka. 

Isi Resensi:

Apa itu cinta? Apakah nafsu keberahian bisa dikatakan sebagai cinta? Apakah makna cinta terlampau abstrak dan luas, sampai-sampai bentuk konkretnya tergantung pada bagaimana pemahaman atas cinta itu sendiri?

Sejatinya, seorang pemuda perantauan Indonesia bernama Rivai, sedang menempuh perjalanan panjang dalam memahami apa arti cinta sesungguhnya. Australia baginya merupakan tempat terbaik bagi pemenuhan rasa keingintahuannya. Bertepatan sekali dengan masa Demokrasi Terpimpin di Indonesia — sekitar tahun 1960an — di mana perdebatan seputar peradaban barat dengan paham modernnya tiada habisnya, Rivai berkesempatan berdiskusi dengan para tokoh  entah itu akademisi, pengamat politik, ataupun sekadar orang awam — mengenai hal-hal itu.

Pertama, pada intinya ideologi suatu negara sangat berpengaruh terhadap progresivitas dan cara berpikir warganya. Ini secara tidak langsung bisa pembaca lihat dari bagaimana teman-teman Rivai menanggapi kebingungan Rivai dengan mengatakan, "Tenang saja! Australia adalah negara demokrasi! Kita sangat menjunjung tinggi kebebasan dan hak asasi individu! Berpendapat dan berideologilah sesuai keyakinan yang kamu percayai!" Meski di sini Rivai tampak mengagumi alam berpikir peradaban modern, namun tidak sepenuhnya ia menyetujuinya, dan di sini pula ia mencapai kedewasaan dan kejernihan dalam bagaimana memandangi beberapa gelintir konflik dan isu. Barangkali pertemuan antara pengalaman kultur Indonesia yang kuat dengan pemahaman akan baratlah yang memperkokoh cara pandang Rivai. Sebagai contoh, menurut Rivai, kebebasan individu tidak selamanya berakhir baik jika tidak dibarengi dengan rasa simpati terhadap kebebasan individu lainnya. Untuk itulah dia kecewa terhadap Janet, seorang sahabatnya yang berkewarganegaraan Australia, dalam upaya membebaskan diri dengan cara mendekati pria-pria lain, tanpa memikirkan perasaan suaminya, Thomas Peter, yang notabenenya seorang dokter ahli jiwa.

Kedua, berkaitan erat dengan inti dari novel ini sendiri, yakni cinta. Di beberapa bab terakhir pembaca akan dihadapkan dengan perdebatan kritis mengenai bagaimana pengaruh peradaban modern terhadap interpretasi cinta berbasis hubungan seksual. Dimulai dari Thomas Peter — suami Janet tadi  bahwa pada intinya hubungan seksual sebatas sport untuk menyalurkan kebutuhan biologis manusia. Jadi, menurutnya, akan sah-sah saja jika seorang individu menjalani hubungan seksual di luar pernikahan, toh pernikahan formal sifatnya hanya membatasi apa itu cinta sendiri. Selama sepasang suami istri benar-benar saling merasakan getaran cinta, asal saling memaklumi masing-masing kebutuhan bercinta, maka tiada cela dalam melakukan hubungan seksual. Untuk menguatkan dalilnya ini, Thomas Peter memaparkan kemajuan peradaban Yunani Kuno, yang membebaskan perseliweran duniawi, sehingga selangkah lebih maju daripada negara-negara lainnya. Pernyataannya pun diperkuat oleh seorang doktor filsuf perempuan, bahwa toh apa yang membatasi perempuan untuk 'mengontrol kegadisannya'  adalah opini-opini liar masyarakat. Sehingga, ketika perempuan menampik gagasan ini, maka sesungguhnya mereka sedang melawan keinginan terpendam mereka.

Bola liar ini pun bergulir ke kutub berlawanan. Seorang pendeta dan kritikus sosial mengecam pendapat Thomas Peter. Pendeta itu beranggapan bahwa cinta sesungguhnya terjalin ketika sepasang laki-laki dan perempuan sudah menikah, dan hubungan seksual dilakukan atas nama cinta kepada Tuhan. Dengan begitu, menurutnya, cinta yang murni tidak mungkin dilakukan serta-merta hanya untuk memenuhi hawa nafsu, melainkan sebagai bentuk pengabdian terhadap peradaban. Sedang kritikus sosial di satu sisi mengatakan bahwa pemikiran Thomas Peter melanggar hak asasi individu lain bahkan berpotensi membahayakan negara. Karena, pertama, seorang individu akan seenaknya melakukan hubungan seksual atas nama nafsu tanpa memikirkan dampak panjang dari perilakunya. Sehingga membuat demografi mengalami pertumbuhan secara signifikan, dan membuat pemerintahan kewalahan dalam mengontrol apalagi menanganinya. Berikutnya, kemajuan peradaban Yuani Kuno yang dibilang Thomas Peter itu tidaklah benar. Karena, peradaban ini terbukti hanya berusia dua abad dan telah membawa Yunani Kuno pada jurang kehancuran.

Terakhir, mengenai kisah cinta antara tokoh utama kita dan pujaan hatinya, Deanne. Pada intinya, beberapa gelintir pertemuan Rivai dengan tokoh-tokoh lainnya turut memperkuat pemahaman Rivai akan apa itu ideologi, cinta, dan demokrasi sehingga berhasil mengantarkan pertemuannya pada Deanne. Seperti pemahaman umum bahwa kecocokan orang bisa dilihat dari interest yang sama, baik Rivai dan Deanne, terus saja kedapatan kesempatan untuk berbicara tentang tiga hal itu secara panjang lebar. Sampai pada titik di mana keduanya akhirnya menyadari telah jatuh cinta satu sama lain, meski bisa dibilang hampir terbilang terlambat, karena telah dipisahkan oleh ruang. Yang satu lagi telah menyerah karena merasa harga dirinya dilukai, memilih untuk menjalani kisah baru tanpa ada kasih di dalamnya. Sedang satunya lagi masih terus berjuang mempertahankan hidupnya agar bisa bertemu lagi dengan sang kekasih.

Kelebihan Buku:

Angkat topi untuk Achdiat K. Mihardja karena berhasil memadukan unsur politik, sosial, dan cinta ke dalam satu kisah panjang nan bermutu. Bukanlah tugas mudah, apalagi disajikan dalam bahasa yang mudah dicerna dan dapat mengajak pembacanya untuk turut berpikir serta tenggelam dalam alam berpikir Rivai dan tokoh-tokoh lainnya.

Begitu banyak nilai kehidupan yang dapat dipetik. Serasa mengikuti kuliah filsafat, politik, dan sosial selama satu semester. Kedapatan juga Achdian K. Mihardja beberapa kali menyelipkan humor yang benar-benar mengundang tawa. Delivery yang sangat apik dan begitu mengalir. Salut!

Kekurangan Buku:

Sungguh disayangkan, di permulaan buku ini sangat sulit dipahami, karena terlalu banyaknya tema atau topik yang diangkat. Oleh sebab itu, sepanjang cerita pembaca, akan kebingungan apa konflik utama dalam buku ini. Meski tidak dapat dimungkiri, di pertengahan cerita mulai memasuki babak-babak yang seru disebabkan konflik antar tokoh dan beberapa gelintir topik perdebatan yang populis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

4 Tips Mengatur Waktu untuk Menulis

Tidak sedikit dari kita merasa kurangnya waktu untuk menulis. Entah karena faktor padatnya pekerjaan setiap harinya ataupun urusan utama lai...