Senin, 25 April 2022
Bedanya Esai Ilmiah dan Esai Populer
Minggu, 24 April 2022
Mengenal Teknik Menulis Amati Tiru Modifikasi (ATM)
![]() |
| Photo by Green Chameleon on Unsplash |
Siapa tidak kenal metode amati, tiru, modifikasi (ATM)? Penggunaannya begitu populer dan nyatanya memang memberi banyak manfaat bagi pelakunya. Meski lebih sering dikaitkan dengan riset bisnis, namun kini metode ATM sudah menjamah dunia kepenulisan, loh. Mungkin tidak sedikit dari kamu akan bertanya, "Kok bisa begitu? Bukannya menulis harusnya melibatkan proses kreatif, ya?"
Coba asumsikan seperti ini: Kamu tidak membiasakan diri untuk menulis setelah membaca buku atau sumber literatur lainnya. Bahkan bisa dibilang hanya menulis beberapa kali dalam sebulan. Saat menulis — bisa ditebak — kamu akan menemukan sejumlah kebuntuan bukan? Mulai dari bagaimana mengolah kosakata hingga mengalami writer's block. Bagi beberapa gelintir penulis profesional saja masalah-masalah tadi sudah lazim, apalagi buat mereka yang tidak rutin menulis.
Nah, metode ATM sekurang-kurangnya dapat membantu penulis mengatasi masalah-masalah lazim itu. Ini karena melalui metode ATM, penulis secara tidak langsung "menyalin" tulisan orang lain untuk dikembangkan menjadi gaya tulisannya sendiri. Bukan berarti plagiasi, melainkan memelajari untung-rugi dari teknik kepenulisan orang lain untuk diri sendiri.
Gagasan akan teknis menulis ATM ini tidak berangkat tanpa sebab kok. Karena sejatinya teknik ini berpangkal pada masing-masing metodenya, yaitu amati, tiru, dan modifikasi. Untuk penjelasan lengkapnya seperti apa, silakan simak tulisan di bawah ini:
1. Amati
![]() |
| Photo by Mario Heller on Unsplash |
- Kesesuaian gaya tulisan dengan branding, apakah pembawaannya humoris, kaku, atau serius. Itu harus diperhatikan dengan cermat.
- Kosakata unik. Kira-kira adakah kosakata unik dari tulisan tersebut yang belum pernah kamu lihat sebelumnya? Seperti misalnya, novel "Debu Cinta Bertebaran" dengan kosakata 'telinga meruncing'.
- Cara merangkai paragraf. Perhatikan bagaimana target ATM-mu menempatkan inti pembahasan dalam tiap paragraf. Apakah satu paragraf dengan lainnya ide saling mengalir atau tidak.
2. Tiru
![]() |
| Photo by freestocks on Unsplash |
3. Modifikasi
Penutup
Kamis, 21 April 2022
RESENSI BUKU #4: Memahami Makna Cinta Sesungguhnya
![]() |
| Novel Debu Cinta Bertebaran | Dok. Pribadi |
Judul Buku : Debu Cinta Berdebaran
Penulis : Achdiat K. Mihardja
Penerbit : BALAI PUSTAKA
Tebal Buku : 388 halaman
Cetakan : Cetakan pertama, tahun 2004
Sinopsis Buku:
Mengambil latar tahun 1960an, seorang tokoh utama berkewarganeraan Indonesia yang bernama Rivai, dihadapkan dengan gegap gempita dunia dalam menyambut perang dan peradaban baru, yang sekurang-kurangnya menjadi topik berulang-berulang dalam buku ini. Di sini pula, terma cinta dan hubungan seksual terus muncul ke permukaan. Secara tidak terduga-duga mempertemukan Deanne, sang pujaan hatinya, di mana keduanya mencoba memahami makna cinta sesungguhnya, dan meresapinya ke dalam kisah cinta mereka.
Isi Resensi:
Apa itu cinta? Apakah nafsu keberahian bisa dikatakan sebagai cinta? Apakah makna cinta terlampau abstrak dan luas, sampai-sampai bentuk konkretnya tergantung pada bagaimana pemahaman atas cinta itu sendiri?
Sejatinya, seorang pemuda perantauan Indonesia bernama Rivai, sedang menempuh perjalanan panjang dalam memahami apa arti cinta sesungguhnya. Australia baginya merupakan tempat terbaik bagi pemenuhan rasa keingintahuannya. Bertepatan sekali dengan masa Demokrasi Terpimpin di Indonesia — sekitar tahun 1960an — di mana perdebatan seputar peradaban barat dengan paham modernnya tiada habisnya, Rivai berkesempatan berdiskusi dengan para tokoh — entah itu akademisi, pengamat politik, ataupun sekadar orang awam — mengenai hal-hal itu.
Pertama, pada intinya ideologi suatu negara sangat berpengaruh terhadap progresivitas dan cara berpikir warganya. Ini secara tidak langsung bisa pembaca lihat dari bagaimana teman-teman Rivai menanggapi kebingungan Rivai dengan mengatakan, "Tenang saja! Australia adalah negara demokrasi! Kita sangat menjunjung tinggi kebebasan dan hak asasi individu! Berpendapat dan berideologilah sesuai keyakinan yang kamu percayai!" Meski di sini Rivai tampak mengagumi alam berpikir peradaban modern, namun tidak sepenuhnya ia menyetujuinya, dan di sini pula ia mencapai kedewasaan dan kejernihan dalam bagaimana memandangi beberapa gelintir konflik dan isu. Barangkali pertemuan antara pengalaman kultur Indonesia yang kuat dengan pemahaman akan baratlah yang memperkokoh cara pandang Rivai. Sebagai contoh, menurut Rivai, kebebasan individu tidak selamanya berakhir baik jika tidak dibarengi dengan rasa simpati terhadap kebebasan individu lainnya. Untuk itulah dia kecewa terhadap Janet, seorang sahabatnya yang berkewarganegaraan Australia, dalam upaya membebaskan diri dengan cara mendekati pria-pria lain, tanpa memikirkan perasaan suaminya, Thomas Peter, yang notabenenya seorang dokter ahli jiwa.
Kedua, berkaitan erat dengan inti dari novel ini sendiri, yakni cinta. Di beberapa bab terakhir pembaca akan dihadapkan dengan perdebatan kritis mengenai bagaimana pengaruh peradaban modern terhadap interpretasi cinta berbasis hubungan seksual. Dimulai dari Thomas Peter — suami Janet tadi — bahwa pada intinya hubungan seksual sebatas sport untuk menyalurkan kebutuhan biologis manusia. Jadi, menurutnya, akan sah-sah saja jika seorang individu menjalani hubungan seksual di luar pernikahan, toh pernikahan formal sifatnya hanya membatasi apa itu cinta sendiri. Selama sepasang suami istri benar-benar saling merasakan getaran cinta, asal saling memaklumi masing-masing kebutuhan bercinta, maka tiada cela dalam melakukan hubungan seksual. Untuk menguatkan dalilnya ini, Thomas Peter memaparkan kemajuan peradaban Yunani Kuno, yang membebaskan perseliweran duniawi, sehingga selangkah lebih maju daripada negara-negara lainnya. Pernyataannya pun diperkuat oleh seorang doktor filsuf perempuan, bahwa toh apa yang membatasi perempuan untuk 'mengontrol kegadisannya' adalah opini-opini liar masyarakat. Sehingga, ketika perempuan menampik gagasan ini, maka sesungguhnya mereka sedang melawan keinginan terpendam mereka.
Bola liar ini pun bergulir ke kutub berlawanan. Seorang pendeta dan kritikus sosial mengecam pendapat Thomas Peter. Pendeta itu beranggapan bahwa cinta sesungguhnya terjalin ketika sepasang laki-laki dan perempuan sudah menikah, dan hubungan seksual dilakukan atas nama cinta kepada Tuhan. Dengan begitu, menurutnya, cinta yang murni tidak mungkin dilakukan serta-merta hanya untuk memenuhi hawa nafsu, melainkan sebagai bentuk pengabdian terhadap peradaban. Sedang kritikus sosial di satu sisi mengatakan bahwa pemikiran Thomas Peter melanggar hak asasi individu lain bahkan berpotensi membahayakan negara. Karena, pertama, seorang individu akan seenaknya melakukan hubungan seksual atas nama nafsu tanpa memikirkan dampak panjang dari perilakunya. Sehingga membuat demografi mengalami pertumbuhan secara signifikan, dan membuat pemerintahan kewalahan dalam mengontrol apalagi menanganinya. Berikutnya, kemajuan peradaban Yuani Kuno yang dibilang Thomas Peter itu tidaklah benar. Karena, peradaban ini terbukti hanya berusia dua abad dan telah membawa Yunani Kuno pada jurang kehancuran.
Terakhir, mengenai kisah cinta antara tokoh utama kita dan pujaan hatinya, Deanne. Pada intinya, beberapa gelintir pertemuan Rivai dengan tokoh-tokoh lainnya turut memperkuat pemahaman Rivai akan apa itu ideologi, cinta, dan demokrasi sehingga berhasil mengantarkan pertemuannya pada Deanne. Seperti pemahaman umum bahwa kecocokan orang bisa dilihat dari interest yang sama, baik Rivai dan Deanne, terus saja kedapatan kesempatan untuk berbicara tentang tiga hal itu secara panjang lebar. Sampai pada titik di mana keduanya akhirnya menyadari telah jatuh cinta satu sama lain, meski bisa dibilang hampir terbilang terlambat, karena telah dipisahkan oleh ruang. Yang satu lagi telah menyerah karena merasa harga dirinya dilukai, memilih untuk menjalani kisah baru tanpa ada kasih di dalamnya. Sedang satunya lagi masih terus berjuang mempertahankan hidupnya agar bisa bertemu lagi dengan sang kekasih.
Kelebihan Buku:
Angkat topi untuk Achdiat K. Mihardja karena berhasil memadukan unsur politik, sosial, dan cinta ke dalam satu kisah panjang nan bermutu. Bukanlah tugas mudah, apalagi disajikan dalam bahasa yang mudah dicerna dan dapat mengajak pembacanya untuk turut berpikir serta tenggelam dalam alam berpikir Rivai dan tokoh-tokoh lainnya.
Begitu banyak nilai kehidupan yang dapat dipetik. Serasa mengikuti kuliah filsafat, politik, dan sosial selama satu semester. Kedapatan juga Achdian K. Mihardja beberapa kali menyelipkan humor yang benar-benar mengundang tawa. Delivery yang sangat apik dan begitu mengalir. Salut!
Kekurangan Buku:
Sungguh disayangkan, di permulaan buku ini sangat sulit dipahami, karena terlalu banyaknya tema atau topik yang diangkat. Oleh sebab itu, sepanjang cerita pembaca, akan kebingungan apa konflik utama dalam buku ini. Meski tidak dapat dimungkiri, di pertengahan cerita mulai memasuki babak-babak yang seru disebabkan konflik antar tokoh dan beberapa gelintir topik perdebatan yang populis.
Rabu, 20 April 2022
Kegiatan Membaca adalah Harga Mati
Kegiatan membaca adalah harga mati bagi para penulis. Barang siapa tidak pernah menyempatkan waktunya untuk menyalin karya tulisan orang lain ke dalam kepalanya, niscaya dirinya tidak akan pernah kaya akan pengalaman, nilai, dan prinsip kehidupan.
Karena, mau bagaimanapun ceritanya, manusia harus terus belajar dan memperkaya dirinya untuk mencapai hakikat sejatinya, yaitu pemimpin dunia. Di mana makna pemimpin dunia di sini tidak bisa diartikan secara sempit, sekadar mengemban jabatan megah dan membangun pundi-pundi kekayaan pribadi. Melainkan, ia merujuk pada kondisi batiniah yang sudah mencapai kesempurnaan hakikinya, ditunjukkan dengan kondisi ril pemiliknya yang sudah menjadi pemimpin di bidangnya.
Para penulis sejati tidak akan menjadikan kekayaan, tahta, dan popularitas sebagai tujuan utama hidup mereka, begitu hemat pikir saya. Kepuasan batiniahlah yang mereka kejar. Keinginan untuk terus menciptakan mahakarya yang berlandaskan esetika dan etika. Diiringi kemauan yang kuat untuk terus menempa diri di saat realitas tidak mendukung, seperti tiada henti menghadapi kegagalan, misalnya. Karena jiwa penulis hidup dari api semangat yang tak akan pernah padam. Dan soal kebutuhan duniawi, itu urusan belakangan (walau meski begitu, yah, tak bisa ditampik juga para penulis perlu mencari sejurus cara untuk menafkahi tubuh mereka dan keluarga mereka).
Dengan demikian, bagaimana pula para penulis bisa mencapai target sebesar itu, bilamana tidak pernah mau belajar? Mahakarya tidak bisa satu malam langsung jadi. Belum lagi, kita belum memvalidasi atau memastukan lebih lanjut, apakah mahakarya kita ternyata sudah dibuat penulis atau pengarang lain. Jika benar sudah terlanjur bangga dan enggan untuk mengembangkan karya lebih lanjut, tak dimungkiri rasa menyesal, malu, dan mencemooh diri akan memburu diri di masa mendatang. Untuk menciptakan mahakarya, perlu rasanya batin terlepas dari segala nafsu, atau istilah mudahnya terlepas — dari kekangan kegelapan yang sejatinya memang akan selalu menyelimuti kalbu manusia tanpa mengenal waktu. Sesudah itu pun, pelakunya perlu dihadapkan langsung dengan berbagai pengalaman empiris. Nah, untuk mempercepat laju itu, sekurang-kurangnya pelakunya perlu membaca berbagai karya penulis lain. Sehingga, pengalaman empirisnya lebih khatam, kaya, dan penuh makna. Mahakarya pun akan tercipta dengan sendirinya, tanpa menafikan jiwa dan semangat penulisnya.
Tidak, tidak. Tidak perlu menunjukkan betapa giatnya diri membaca buku atau karya tulis kepada khalayak dunia. Percaya atau tidak, pembuktian hanya memuaskan diri di beberapa momen saja, selebihnya hati akan kosong melompong. Rasa-rasanya tidak ada semangat lagi, karena pencapaian atau progres tidak dipantau apalagi dipertanyakan orang lain. Maka, bacalah buku untuk diri sendiri, bukan untuk mendapatkan pengakuan. Toh, kualitas mahakarya merupakan pantulan terbaik dari pengalaman dan pengetahuan penulisnya, termasuk dalam hal ini jumlah dan mutu bacaan penulisnya. Tanpa perlu meminta, pembaca akan menilai ketelatenan penulis dari sini — pengakuan paling tulus tanpa ada rasa terpaksa harus menyenangkan penulisnya.
Marilah kita membaca, membaca, dan membaca. Terus berupaya menciptakan mahakarya tulis terbaik: cerminan diri sebagai sejatinya penulis — yang sudah berhasil memimpin dirinya untuk melambung sejauh ini!
Selasa, 19 April 2022
Anggaplah Menulis Sebagai Pisau, Niscaya Jiwamu Tiada Tumpul
![]() |
| Photo by Kenny Eliason on Unsplash |
Sering mendengar pepatah: "Pisau jika tidak diasah akan tumpul"? Agaknya ini tidak hanya berlaku dalam konteks ilmu pengetahuan. Menulis pun juga demikian, kemampuan Anda dalam melakukannya akan terus menurun seiring berjalannya waktu pena membebaskan diri dari genggaman tangan Anda.
Ini sudah saya coba, dan memang benar adanya. Sebuah eksperimen konyol yang dilandasi rasa jenuh dan kemalasan diri. Kedapatan kualitas menulis menurun segitunya? Aih! Tinggal berlindung saja di balik hati, toh, dia kedapatan pernah bergumam, "Sudah bosan saya menulis. Bagaimana jadinya jika beberapa bulan saya tidak rutin menulis lagi?"
Dan benar saja, setelah berapa bulan lamanya diri ini tidak menyeriusi kepenulisan, kesulitan-kesulitan baru terus bermunculan ke atas permukaan. Seolah-olah menjelma menjadi tembok besar yang kokoh, yang dengan sengaja muncul tepat di hadapan diri ini untuk menghadang perlangkahan. Sebagai sebenar-benarnya bukti — dalam alam berpikir saya — merangkai kata-kata tidak lagi semudah dulu. Bahkan, membuat satu paragraf tidak memiliki ide pokok yang sama dengan paragraf lainnya, menjadi sebuah perkara baru nan pelik. Sungguh, benar-benar memusingkan. Rasa-rasanya otak perlu berlari tujuh keliling untuk dapat mengkhatamkannya.
Andai Anda mau tahu, sesungguhnya ini bukan berangkat dari keresahan batin saja. Pengalaman empiris turut memvalidasi kesimpulan abstrak itu. Dalam beberapa tugas dari pekerjaan — misalnya — ketika diminta untuk membuat artikel atau caption untuk konten feed Instagram. Dibandingkan hal-hal dahulu, saya lebih sering menemui tembok menyebalkan bernama writer's block itu. Sudah berwasangka baik, barangkali ini disebabkan kelelahan batin saya dalam menjumpai rutinitas yang itu-itu saja. Tapi — entah mengapa — seiring berjalannya waktu, kok, tidak ada perkembangan yang berarti nan signifikan. Sudah membaca puluhan artikel dan berlembar-lembar buku, kok, untuk menelurkan suatu kalimat baru nan estetis tetap saja sulit. Gundah hati ini: apa salah?
Akhirnya, dengan memberanikan diri menengok sosok di masa lalu, saya mendapati bahwasanya ini semua disebabkan dari keengganan saya untuk rutin menulis seperti dulu. Sudah merasa pandai membuat artikel. Sudah merasa tidak perlu mengembangkan diri lagi, karena berpikir memuat artikel kan begitu-begitu aja. Sudah merasa bangga dengan penghargaan-penghargaan kepenulisan di masa lalu. Kalau kata orang-orang: "Terbawa arus romantisme masa lalu".
Sungguh melakukan. Padahal, menulis artikel itu ibarat Anda menciptakan karya-karya seni baru. Selain jiwa yang menjunjung tinggi rasa berseni, dalam menulis diperlukan ketelatenan dan ketekunan tanpa kenal rasa lelah. Karena, bagaimana pula kita mengetahui mana celah-celah dalam tulisan untuk ditingkatkan kualitas estetikanya, sedang di satu sisi kita enggan untuk menempa diri?
Dengan demikian — seharusnya — saya menganggap menulis sebagai pisau. Mempersilakan seisi tubuh ini bertelanjang, lalu membiarkan pepatah: "Menulis ibarat pisau, jika tidak diasah akan tumpul" meresap dalam kepala. Barangkali, dengan ini, saya akan termotivasi lagi untuk rutin menulis. Tak lupa dirundung rasa takut tanpa kenal waktu, karena mengetahui kemampuan menulis akan menghilang jika tidak pernah diasah. Juga, jiwa akan kesulitan mendapatkan singgasana damainya lantaran menghilang dibiarkan mengabu sia-sia.
Senin, 18 April 2022
RESENSI BUKU #3: Kenyataan yang Sering Diabaikan Umat Islam
Judul Buku : Kebenaran yang Pahit
Penulis : Muhammad al-Ghazali
Penerbit : PT LENTERA BASRITAMA
Tebal Buku : 194 halaman
Cetakan : Cetakan pertama, tahun 2002
Sinopsis Buku:
Disadari atau tidak, umat Islam saat ini sedang terjebak di tengah himpitan kepalsuan yang sering kita anggap sebagai kebenaran. Juga, setengah mati dibuat menolak kenyataan sesungguhnya. Semua aspek kehidupan — baik itu ekonomi, sosial, politik, maupun budaya — tak lengahnya menghipnotis dan memperdaya kita.
Tipu daya ini secara langsung dan tidak langsung memecah umat Islam menjadi beberapa kubu. Ada mereka yang tetap bersiteguh mematuhi ajaran agama. Ada pula yang tetap terang-terangan memusuhi Islam. Dan di antara kedua kubu ini, ada mereka — sekelompok pengkhianat — yang tidak berani menunjukkan arah gerak ekornya.
Perpecahan ini bukan sekadar konsekuensi logis dari serangan musuh, melainkan merambah luas hingga berpotensi melumpuhkan pilar-pilar Islam di masa mendatang. Menjadi tugas kita bersama untuk mewaspadai hal-hal abu-abu ini, bahkan kalau bisa, turut memerangi dengan kepiawaian dalam berpikir dengan menyandarkan kebenaran pada ajaran Islam.
Isi Resensi:
"Jika agama tidak lagi mempunyai pengaruh dalam menegakkan jiwa dan menenangkan hati, maka manusia akan tetap saling bermusuhan, saling mencaci, dan terpecah belah" (halaman 127).
Muhammad al-Ghazali dalam bukunya ini memaparkan sejumlah masalah dan tantangan besar yang tengah dihadapi umat Islam. Tak disangka, apa yang hingga detik ini kita anggap perkara sederhana nan kecil, ternyata merupakan serangan sistematis dan terselubung yang sudah disusun sedemikian rupa oleh musuh sehingga kita pun hanya menganggapnya sekadar angin berlalu.
Soal kedudukan perempuan, misalnya. Hingga detik ini, sering sampai di telinga kita betapa Islam seolah-olah "membatasi peran dan gerak" perempuan. Padahal, menurut Muhammad al-Ghazali — andai kita mau menengok kembali sejarah — Islam begitu memuliakan dan memberikan penghormatan khusus kepada kaum perempuan. Seperti misalnya, seorang sahabat perempuan baginda Rasulullah SAW bernama Nasibah binti Ka'b diberi julukan Ummu Amarah. Saking mulianya beliau, bahkan seorang Musyrik menggambarkan kegigihan perjuangan Ummu Amarah dengan mengatakan: "Kedudukan Nasibah hari ini lebih baik daripada si anu dan si anu."
Dalam buku ini, ada kisah menarik lainnya yang turut membahas kedudukan dan kemuliaan perempuan. Jadi ceritanya, kantor Muhammad al-Ghazali kedatangan seorang perempuan yang mengeluhkan keterlibatan semua saudara laki-lakinya dalam pekerjaan rumah. Entah karena terbiasa ibu mereka — yang diceritakan sedang sakit — mengurusi semua pekerjaan ataupun faktor lainnya, semua saudara laki-laki si perempuan menolak dan mengatakan: "Kamu adalah seorang perempuan, sehingga hanya kamu yang wajib memikul tugas-tugas rumah ini!" Ketika Muhammad al-Ghazali menitipkan secarik kertas bertuliskan hadis tentang Ummul Mu'minin Sayyidah 'Aisyah kepada perempuan itu, tetiba seseorang lain yang menguping perbincangan menghampiri beliau lantas mengatakan, bukankah perempuan tidak lebih mulia dari laki-laki. Muhammad al-Ghazali pun membalas pertanyaan orang itu dengan mengatakan, bagaimana bisa seperti itu, sementara istri Fir'arun lebih mendapatkan posisi di samping-Nya ketimbang kebanyakan laki-laki saat ini yang belum terjamin berapa berat timbangan takwanya.
Untuk itulah, lewat buku ini Muhammad al-Ghazali menyampaikan betapa pentingnya bagi kita untuk mewaspadai segala macam serangan musuh dengan mengamini kebenaran dan keadilan Islam dalam mempersoalkan kehidupan. Ini bukan berarti fanatisme buta, sekadar memercayai saja tanpa sandaran berpikir dan mencoba untuk membenarkan pandangan meski belum terbukti kebenarannya. Melainkan, mencoba berpikir jernih dengan berlandaskan pada pemahaman kita atas agama — lebih hati-hati dalam menanggapi wacana baru yang tetiba muncul dengan maksud mempertentangkan Islam tapi sebenarnya tidak logis karena kaum penuntutlah yang berlaku seperti apa yang dituntutnya, bahkan lebih buruk.
Kelebihan Buku:
Muhammad al-Ghazali dengan kepiawaiannya dalam menulis, berhasil menguraikan berbagai masalah umat Islam saat ini, dibalas dengan argumentasi secara logis, disertai pula dengan dalil hadis maupun ayat Al-Qur'an. Benar-benar memberi banyak pengetahuan baru kepada pembaca, bahkan sampai di tahap mengajak berpikir kritis atas hal-hal yang sebelumnya kita anggap wajar saja dan normal.
Kekurangan Buku:
Gaya bahasa buku ini secara tidak langsung mencoba menyempitkan target pembacanya. Dalam arti — gaya bahasa yang terlalu "keras", "tegas", dan "menggurui" — barangkali membuat kelompok pembaca yang baru memelajari Islam merasa tidak nyaman. Sehingga, menurut saya, buku ini lebih cocok dibaca oleh mereka dengan basis masalah yang sama dengan yang dirasakan oleh Muhammad al-Ghazali.
Minggu, 17 April 2022
RESENSI BUKU #2: Rekam Jejak itu Membuka Mata Kita
Penulis : Team Dokumentasi Presiden RI
Penerbit : PT CITRA KHARISMA BUNDA
Tebal Buku : 317 halaman
Cetakan : Cetakan ketiga, tahun 2003
ISBN : ISBN 979-8085-02-7
Sinopsis Buku:
Buku ini mencoba merangkum peristiwa-peristiwa yang berkaitan langsung dengan peloporan Orde Baru di Indonesia, dengan menyempitkan pembahasan pada langkah-langkah ril yang diambil Pak Soeharto.
Isi Buku:
Sederhananya — lewat buku ini — pembaca akan mengetahui mengapa Pak Soeharto mengambil langkah-langkah tertentu secara spesifik di masa lalu. Mengapa harus mengambil langkah tersebut ketimbang opsi langkah lainnya yang barangkali telah tersedia. Mengapa pula harus berupaya teguh mempertahankan kekokohan bangsa dan negara di saat Indonesia sudah meresmikan kemerdekaannya.
Kelebihan:
Buku ini berhasil merangkum langkah-langkah Pak Soeharto secara mendetail, sehingga interpretasi atas keberlangsungan sejarah Orde Baru diserahkan kepada pembaca. Hal ini bisa dilihat dari minimnya opini/pendapat atas suatu peristiwa dalam buku ini. Lebih memberatkan pada pembahasan bagaimana dan mengapa Pak Soeharto mengambil keputusan tertentu.
Kekurangan:
Karena pembahasannya difokuskan pada Pak Soeharto, ada beberapa peristiwa yang meninggalkan sejumlah pertanyaan. Seperti, mengapa tetiba Pak Soekarno diduga terafiliasi dengan kelompok tertentu tanpa ada bukti yang kuat.
RESENSI BUKU #1: Awas, Serangan Musuh Sudah Ada di Mana-Mana!
Nulis Aja Dulu
Judul tulisan ini berangkat dari keresahan saya dalam menulis, yang terlalu memikirkan bagaimana cara mengolah kata sedemikian rupa, sehingga saya jadi tidak menikmati proses dalam menulis. Bahkan, sampai di tahap saya merasa jenuh menulis, padahal belum memulainya sama sekali. Sungguh, menyiksa batin.
Ingin rasanya menjadi manusia merdeka, sekali lagi dan berkali-kali. Menulis dengan bebas tanpa perlu memikirkan hal-hal yang belum tentu akan terjadi. Merangkai kata-kata karena keinginan, bukan karena keterpaksaan. Sekalipun tidak terlalu mementingkan apakah sudah memenuhi kaidah kepenulisan (sesekali hahaha), biar bisa menikmati hidup secara penuh seluruh!
Berangkat dari blog ini, harapannya saya bisa menembus batas diri lagi. Bisa kembali rutin menulis seperti sediakala. Mencintai menulis sekali lagi dan untuk seterusnya. Semoga :)
Tangerang Selatan, 17 April 2022
4 Tips Mengatur Waktu untuk Menulis
Tidak sedikit dari kita merasa kurangnya waktu untuk menulis. Entah karena faktor padatnya pekerjaan setiap harinya ataupun urusan utama lai...
-
Apa bedanya esai ilmiah dan esai populer? Apa bedanya esai ilmiah dan esai populer? Kalau ada lomba menulis esai, apakah itu berarti kita di...
-
Novel Debu Cinta Bertebaran | Dok. Pribadi Judul Buku : Debu Cinta Berdebaran Penulis : Achd...
-
Photo by Kenny Eliason on Unsplash Sering mendengar pepatah: "Pisau jika tidak diasah akan tumpul" ? Agaknya ini tidak hanya be...













