Senin, 25 April 2022

Bedanya Esai Ilmiah dan Esai Populer

bedanya esai ilmiah dan esai populer
Apa bedanya esai ilmiah dan esai populer?

Apa bedanya esai ilmiah dan esai populer?

Kalau ada lomba menulis esai, apakah itu berarti kita diminta untuk mengikutkan naskah esai ilmiah? Atau malah seharusnya esai populer?

Pernahkah kamu bertanya-tanya juga soal esai ilmiah dan esai populer? Dan suka bingung dalam membedakan keduanya? 

Tidak perlu merasa khawatir, perasaanmu lumrah kok. Karena memang harus diakui, kita lebih sering mendengar kata "esai" ketimbang "esai ilmiah" dan "esai populer". Sehingga, begitu mendengar kedua cabang esai tersebut, kita akan merasa bingung dalam mengartikan masing-masing dari mereka.

Meski begitu, kamu tetap harus mengetahui perbedaan antara esai ilmiah dan esai populer, loh. Ini karena ketidaktahuanmu atas hal ini akan berpengaruh terhadap caramu dalam menyajikan naskah esai. Apalagi untuk kepentingan lomba atau mengirimkan naskah ke media massa. Bukannya lolos ke meja juri atau redaktur, yang ada naskahmu sudah dibuang ke tong sampah hanya dalam sekali pandang.

Tentu kamu tidak ingin mengalami hal seperti itu bukan? Maka itu, yuk ketahui bedanya esai ilmiah dan esai populer! Simak penjelasannya di bawah ini, ya!

1. Gaya Bahasa 

Gaya Bahasa Esai Ilmiah dan Esai Populer
Gaya Bahasa Esai Ilmiah dan Esai Populer

Seperti kita ketahui, bedanya esai populer dan esai ilmiah terletak pada terma "populer" dan "ilmiah". Dan ternyata, kedua terma tersebut merujuk pada bagaimana cara kita dalam menyajikan naskah esai, yang dalam hal ini adalah gaya bahasa dalam tulisan.

Untuk esai ilmiah, berarti gaya bahasanya terkesan ilmiah. Ilmiah yang seperti apa? Ilmiah yang mengedepankan argumentasi berbasis fakta dan data. Misal, kamu ingin mengutarakan pendapat tentang evaluasi pendidikan di daerah 3T selama masa pandemi. Barangkali kamu sebelumnya sudah punya pendapat pribadi tentang topik tersebut. Nah, dalam esai ilmiah, pendapatmu sangat harus dikuatkan dengan pendapat tokoh terkait atau data statistik seputar itu.

Beda halnya dengan esai populer. Karena gaya bahasanya populer, maka sesungguhnya tidak akan apa-apa jika kamu tidak memaparkan banyak pendapat tokoh terkait atau data statistik pendukung. Hanya saja, kamu perlu merangkai kata-kata sedemikian rupa sehingga bisa meyakinkan pembaca untuk menyetujui argumentasimu itu.

2. Target Pembaca

Target Pembaca Esai Ilmiah dan Esai Populer
Target Pembaca Esai Ilmiah dan Esai Populer

Balik lagi ke soal terma "ilmiah" dan "populer". Ternyata kedua terma tersebut juga berpengaruh terhadap target pembaca. Pertanyaannya, kok bisa begitu?

Jadi begini ceritanya. Untuk esai ilmiah, karena sifatnya ilmiah, berarti target pembacanya adalah kalangan akademisi. Itu berarti, pemilihan kosakatanya lebih khusus sesuai dengan topik tulisan. Lebih terkesan intelektual.

Adapun esai populer, karena sifatnya populer, maka target pembacanya adalah masyarakat umum. Tidak terbatas pada pembaca yang itu-itu saja. Itu berarti, saat membuat esai populer, kamu harus memilih kosakata yang mudah dipahami pembaca. Lebih membumi.

3. Keterbacaan

Keterbacaan Esai Ilmiah dan Esai Populer
Keterbacaan Esai Ilmiah dan Esai Populer

Apa itu keterbacaan? Menurut hemat pandangan saya, keterbacaan adalah tolak ukur sebuah tulisan dapat dibaca dengan mudah dan cepat oleh pembacanya. Nah, dalam konteks esai, keterbacaan mengharuskan sebuah naskah esai agar dibuat seideal mungkin sehingga bisa sesuai dengan psikologis target pembacanya.

Untuk esai ilmiah, tidak menjadi hal besar ketika kamu membuat satu paragraf memenuhi hampir satu halaman tulisan. Bahkan, tidak masalah pula apabila satu paragraf terdiri dari belasan kalimat. Hal ini dikarenakan target pembacanya adalah kalangan akademisi, yang memang sudah lebih akrab dengan corat-coret ilmiah.

Beda sekali dengan esai populer. Dalam membuat esai satu ini, kamu benar-benar harus memerhatikan jumlah kalimat dalam satu paragraf. Kalau kata kebanyakan penulis esai populer, sebaiknya satu paragraf maksimal terdiri dari 5-6 kalimat. Dan sekurang-kurangnya ada 2 kalimat. 

Kenapa bisa begitu? Karena target pembaca esai populer adalah masyarakat umum. Masyarakat umum lebih akrab membaca lewat handphone, yang memang psikologisnya lebih suka baca tulisan dengan kalimat yang tidak begitu panjang.

4. Judul Tulisan

Judul Tulisan Esai Ilmiah dan Esai Populer
Judul Tulisan Esai Ilmiah dan Esai Populer

Seringkali saya menjumpai judul tulisan pada esai ilmiah dengan menggunakan tanda ":". Mungkin bisa dibilang hampir semuanya? Di mana, semakin detail dan deskriptif judulnya, semakin tinggi pula kemungkinan naskah esai ilmiah tersebut untuk menang.

Sayangnya, judul tulisan seperti ini tidak terlalu berlaku pada esai populer. Ada pun mungkin jumlahnya masih sangat sedikit. Hal ini karena "hukum judul tulisan" pada esai populer berbanding terbalik dengan esai ilmiah. Pada esai populer, semakin sedikit jumlah kata pada judul dan clickbait, maka semakin tinggi pula peluang naskah untuk menang di perlombaan atau hati para juri lomba.

Karena balik lagi: target pembaca esai ilmiah dan esai populer berbeda. Tujuan pembaca esai ilmiah membaca naskahmu adalah untuk kebutuhan penelitian atau minimal menambah gagasan mereka dalam seputar topik yang menjadi minat mereka. Itu makanya judul tulisan dibuat sedetail mungkin. Sementara esai populer, pembacanya adalah masyarakat umum yang kebetulan lewat melihat karya tulismu lewat di depan mata mereka. Bukan membaca karena sudah ada tujuan di awal. Itu makanya judul tulisan yang pendek dan clickbait membuat mereka tertarik untuk membaca tulisan.

5. Penulisan Daftar Pustaka

Seperti sudah disinggung sebelumnya, esai ilmiah mengharuskan penulisnya untuk memaparkan argumentasi berbasis fakta dan data. Itulah sebabnya kamu saat membuat esai ilmiah harus melampirkan daftar pustaka. Sebagai bentuk pertanggungjawaban atas tulisanmu itu.

Esai populer di sisi lain, berisikan pendapat pribadi yang ditambahkan fakta dan data sebagai pendukung, bukan inti tulisan. Karena target pembaca esai populer juga masyarakat umum, untuk penulisan daftar pustaka tidak diwajibkan, bahkan lebih baik tidak ada (untuk tujuan estetika). Jika kamu hendak mengutip pendapat tokoh atau data statistik, cukup disebutkan dalam isi tulisan. Tidak perlu membuat lembar lampiran khusus daftar pustaka.

Itulah beberapa perbedaan antara esai ilmiah dan esai populer. Sebenarnya masih ada beberapa perbedaan lagi di antara kedua jenis esai tersebut. Namun akan saya tambahkan seiring berjalannya waktu dan pertanyaan-pertanyaan yang masuk.

Jika ada pertanyaan terkait esai populer, saya sangat terbuka untuk kesempatan ini. Terima kasih banyak sebelumnya karena sudah membaca tulisan ini. Have a nice day!

Minggu, 24 April 2022

Mengenal Teknik Menulis Amati Tiru Modifikasi (ATM)

teknik menulis ATM
Photo by Green Chameleon on Unsplash

Siapa tidak kenal metode amati, tiru, modifikasi (ATM)? Penggunaannya begitu populer dan nyatanya memang memberi banyak manfaat bagi pelakunya. Meski lebih sering dikaitkan dengan riset bisnis, namun kini metode ATM sudah menjamah dunia kepenulisan, loh. Mungkin tidak sedikit dari kamu akan bertanya, "Kok bisa begitu? Bukannya menulis harusnya melibatkan proses kreatif, ya?"

Coba asumsikan seperti ini: Kamu tidak membiasakan diri untuk menulis setelah membaca buku atau sumber literatur lainnya. Bahkan bisa dibilang hanya menulis beberapa kali dalam sebulan. Saat menulis — bisa ditebak — kamu akan menemukan sejumlah kebuntuan bukan? Mulai dari bagaimana mengolah kosakata hingga mengalami writer's block. Bagi beberapa gelintir penulis profesional saja masalah-masalah tadi sudah lazim, apalagi buat mereka yang tidak rutin menulis.

Nah, metode ATM sekurang-kurangnya dapat membantu penulis mengatasi masalah-masalah lazim itu. Ini karena melalui metode ATM, penulis secara tidak langsung "menyalin" tulisan orang lain untuk dikembangkan menjadi gaya tulisannya sendiri. Bukan berarti plagiasi, melainkan memelajari untung-rugi dari teknik kepenulisan orang lain untuk diri sendiri.

Gagasan akan teknis menulis ATM ini tidak berangkat tanpa sebab kok. Karena sejatinya teknik ini berpangkal pada masing-masing metodenya, yaitu amati, tiru, dan modifikasi. Untuk penjelasan lengkapnya seperti apa, silakan simak tulisan di bawah ini:

1. Amati

teknik menulis amati
Photo by Mario Heller on Unsplash

Ini langkah pertama dan terpenting dari teknik menulis ATM. Karena dari sinilah kamu bisa mendapatkan gambaran akan tulisan yang bagus itu seperti apa. Mulai dari kosakata hingga kerapian tiap paragraf tulisan.

Butuh waktu tidak sedikit untuk melakukannya, minimal 30 menit atau 1 jam per hari dalam melakukannya. Kamu perlu membaca banyak tulisan dari seorang penulis profesional atau sebuah situs kredibel. Tidak membaca secara terburu-buru, tapi dinikmati dengan senang hati. Hal ini supaya ada waktu bagi otakmu dalam merekam tulisan secara utuh dan menyeluruh.  

Sekurang-kurangnya, ada tiga poin yang perlu kamu amati dalam tulisan karya penulis profesional atau sebuah situs kredibel, sebagai berikut:
  • Kesesuaian gaya tulisan dengan branding, apakah pembawaannya humoris, kaku, atau serius. Itu harus diperhatikan dengan cermat.
  • Kosakata unik. Kira-kira adakah kosakata unik dari tulisan tersebut yang belum pernah kamu lihat sebelumnya? Seperti misalnya, novel "Debu Cinta Bertebaran" dengan kosakata 'telinga meruncing'.
  • Cara merangkai paragraf. Perhatikan bagaimana target ATM-mu menempatkan inti pembahasan dalam tiap paragraf. Apakah satu paragraf dengan lainnya ide saling mengalir atau tidak. 

2. Tiru

teknik menulis tiru
Photo by freestocks on Unsplash

Sudah mengamati? Oke, berikutnya tirulah target ATM tulisanmu. Tapi, bukan berarti ditiru mentah-mentah ya, asal copy paste langsung jadi. Melainkan kamu tiru bagaimana target ATM tulisanmu dirangkai sedemikian rupa.

Mudahnya begini. Jika saat menulis kamu menemukan kebuntuan, lihatlah target ATM tulisanmu sebagai sumber inspirasi. Tulis sampai mentok. Buntu lagi. Lihat tetangga lagi. Lakukan seperti itu hingga kamu yakin bisa melakukannya tanpa perlu menengok target ATM tulisan lagi. 

3. Modifikasi 

Intinya, dalam proses meniru tadi, kamu modifikasi sedikit atau kembangkan menjadi gaya tulisanmu sendiri, sesuai apa yang mengendap dalam kepalamu. Dan setelah jadi, tulisan tersebut kamu modifikasi agar sesuai dengan kaidah kepenulisan (KBBI dan PUEBI).

Penutup

Belajar menulis lagi dari awal merupakan hal lumrah, jadi tidak perlu merasa takut apalagi malu. Jika pun benar kamu mengalami kejadian ini, solusi termudahnya adalah menerapkan teknik menulis ATM saat menulis. Amati, tiru, dan modifikasi tulisan penulis profesional atau situs kredibel hingga akhirnya kamu terbiasa, dan bisa melakukannya tanpa menggunakan metode ini lagi.

Semangat belajar menulis, dan selamat mencoba!

Kamis, 21 April 2022

RESENSI BUKU #4: Memahami Makna Cinta Sesungguhnya

Novel Debu Cinta Bertebaran
Novel Debu Cinta Bertebaran | Dok. Pribadi

Judul Buku                : Debu Cinta Berdebaran

Penulis                       : Achdiat K. Mihardja

Penerbit                     : BALAI PUSTAKA

Tebal Buku                : 388 halaman

Cetakan                    : Cetakan pertama, tahun 2004


Sinopsis Buku:

Mengambil latar tahun 1960an, seorang tokoh utama berkewarganeraan Indonesia yang bernama Rivai, dihadapkan dengan gegap gempita dunia dalam menyambut perang dan peradaban baru, yang sekurang-kurangnya menjadi topik berulang-berulang dalam buku ini. Di sini pula, terma cinta dan hubungan seksual terus muncul ke permukaan. Secara tidak terduga-duga mempertemukan Deanne, sang pujaan hatinya, di mana keduanya mencoba memahami makna cinta sesungguhnya, dan meresapinya ke dalam kisah cinta mereka. 

Isi Resensi:

Apa itu cinta? Apakah nafsu keberahian bisa dikatakan sebagai cinta? Apakah makna cinta terlampau abstrak dan luas, sampai-sampai bentuk konkretnya tergantung pada bagaimana pemahaman atas cinta itu sendiri?

Sejatinya, seorang pemuda perantauan Indonesia bernama Rivai, sedang menempuh perjalanan panjang dalam memahami apa arti cinta sesungguhnya. Australia baginya merupakan tempat terbaik bagi pemenuhan rasa keingintahuannya. Bertepatan sekali dengan masa Demokrasi Terpimpin di Indonesia — sekitar tahun 1960an — di mana perdebatan seputar peradaban barat dengan paham modernnya tiada habisnya, Rivai berkesempatan berdiskusi dengan para tokoh  entah itu akademisi, pengamat politik, ataupun sekadar orang awam — mengenai hal-hal itu.

Pertama, pada intinya ideologi suatu negara sangat berpengaruh terhadap progresivitas dan cara berpikir warganya. Ini secara tidak langsung bisa pembaca lihat dari bagaimana teman-teman Rivai menanggapi kebingungan Rivai dengan mengatakan, "Tenang saja! Australia adalah negara demokrasi! Kita sangat menjunjung tinggi kebebasan dan hak asasi individu! Berpendapat dan berideologilah sesuai keyakinan yang kamu percayai!" Meski di sini Rivai tampak mengagumi alam berpikir peradaban modern, namun tidak sepenuhnya ia menyetujuinya, dan di sini pula ia mencapai kedewasaan dan kejernihan dalam bagaimana memandangi beberapa gelintir konflik dan isu. Barangkali pertemuan antara pengalaman kultur Indonesia yang kuat dengan pemahaman akan baratlah yang memperkokoh cara pandang Rivai. Sebagai contoh, menurut Rivai, kebebasan individu tidak selamanya berakhir baik jika tidak dibarengi dengan rasa simpati terhadap kebebasan individu lainnya. Untuk itulah dia kecewa terhadap Janet, seorang sahabatnya yang berkewarganegaraan Australia, dalam upaya membebaskan diri dengan cara mendekati pria-pria lain, tanpa memikirkan perasaan suaminya, Thomas Peter, yang notabenenya seorang dokter ahli jiwa.

Kedua, berkaitan erat dengan inti dari novel ini sendiri, yakni cinta. Di beberapa bab terakhir pembaca akan dihadapkan dengan perdebatan kritis mengenai bagaimana pengaruh peradaban modern terhadap interpretasi cinta berbasis hubungan seksual. Dimulai dari Thomas Peter — suami Janet tadi  bahwa pada intinya hubungan seksual sebatas sport untuk menyalurkan kebutuhan biologis manusia. Jadi, menurutnya, akan sah-sah saja jika seorang individu menjalani hubungan seksual di luar pernikahan, toh pernikahan formal sifatnya hanya membatasi apa itu cinta sendiri. Selama sepasang suami istri benar-benar saling merasakan getaran cinta, asal saling memaklumi masing-masing kebutuhan bercinta, maka tiada cela dalam melakukan hubungan seksual. Untuk menguatkan dalilnya ini, Thomas Peter memaparkan kemajuan peradaban Yunani Kuno, yang membebaskan perseliweran duniawi, sehingga selangkah lebih maju daripada negara-negara lainnya. Pernyataannya pun diperkuat oleh seorang doktor filsuf perempuan, bahwa toh apa yang membatasi perempuan untuk 'mengontrol kegadisannya'  adalah opini-opini liar masyarakat. Sehingga, ketika perempuan menampik gagasan ini, maka sesungguhnya mereka sedang melawan keinginan terpendam mereka.

Bola liar ini pun bergulir ke kutub berlawanan. Seorang pendeta dan kritikus sosial mengecam pendapat Thomas Peter. Pendeta itu beranggapan bahwa cinta sesungguhnya terjalin ketika sepasang laki-laki dan perempuan sudah menikah, dan hubungan seksual dilakukan atas nama cinta kepada Tuhan. Dengan begitu, menurutnya, cinta yang murni tidak mungkin dilakukan serta-merta hanya untuk memenuhi hawa nafsu, melainkan sebagai bentuk pengabdian terhadap peradaban. Sedang kritikus sosial di satu sisi mengatakan bahwa pemikiran Thomas Peter melanggar hak asasi individu lain bahkan berpotensi membahayakan negara. Karena, pertama, seorang individu akan seenaknya melakukan hubungan seksual atas nama nafsu tanpa memikirkan dampak panjang dari perilakunya. Sehingga membuat demografi mengalami pertumbuhan secara signifikan, dan membuat pemerintahan kewalahan dalam mengontrol apalagi menanganinya. Berikutnya, kemajuan peradaban Yuani Kuno yang dibilang Thomas Peter itu tidaklah benar. Karena, peradaban ini terbukti hanya berusia dua abad dan telah membawa Yunani Kuno pada jurang kehancuran.

Terakhir, mengenai kisah cinta antara tokoh utama kita dan pujaan hatinya, Deanne. Pada intinya, beberapa gelintir pertemuan Rivai dengan tokoh-tokoh lainnya turut memperkuat pemahaman Rivai akan apa itu ideologi, cinta, dan demokrasi sehingga berhasil mengantarkan pertemuannya pada Deanne. Seperti pemahaman umum bahwa kecocokan orang bisa dilihat dari interest yang sama, baik Rivai dan Deanne, terus saja kedapatan kesempatan untuk berbicara tentang tiga hal itu secara panjang lebar. Sampai pada titik di mana keduanya akhirnya menyadari telah jatuh cinta satu sama lain, meski bisa dibilang hampir terbilang terlambat, karena telah dipisahkan oleh ruang. Yang satu lagi telah menyerah karena merasa harga dirinya dilukai, memilih untuk menjalani kisah baru tanpa ada kasih di dalamnya. Sedang satunya lagi masih terus berjuang mempertahankan hidupnya agar bisa bertemu lagi dengan sang kekasih.

Kelebihan Buku:

Angkat topi untuk Achdiat K. Mihardja karena berhasil memadukan unsur politik, sosial, dan cinta ke dalam satu kisah panjang nan bermutu. Bukanlah tugas mudah, apalagi disajikan dalam bahasa yang mudah dicerna dan dapat mengajak pembacanya untuk turut berpikir serta tenggelam dalam alam berpikir Rivai dan tokoh-tokoh lainnya.

Begitu banyak nilai kehidupan yang dapat dipetik. Serasa mengikuti kuliah filsafat, politik, dan sosial selama satu semester. Kedapatan juga Achdian K. Mihardja beberapa kali menyelipkan humor yang benar-benar mengundang tawa. Delivery yang sangat apik dan begitu mengalir. Salut!

Kekurangan Buku:

Sungguh disayangkan, di permulaan buku ini sangat sulit dipahami, karena terlalu banyaknya tema atau topik yang diangkat. Oleh sebab itu, sepanjang cerita pembaca, akan kebingungan apa konflik utama dalam buku ini. Meski tidak dapat dimungkiri, di pertengahan cerita mulai memasuki babak-babak yang seru disebabkan konflik antar tokoh dan beberapa gelintir topik perdebatan yang populis.

Rabu, 20 April 2022

Kegiatan Membaca adalah Harga Mati

Kegiatan membaca adalah harga mati bagi para penulis. Barang siapa tidak pernah menyempatkan waktunya untuk menyalin karya tulisan orang lain ke dalam kepalanya, niscaya dirinya tidak akan pernah kaya akan pengalaman, nilai, dan prinsip kehidupan. 

Karena, mau bagaimanapun ceritanya, manusia harus terus belajar dan memperkaya dirinya untuk mencapai hakikat sejatinya, yaitu pemimpin dunia. Di mana makna pemimpin dunia di sini tidak bisa diartikan secara sempit, sekadar mengemban jabatan megah dan membangun pundi-pundi kekayaan pribadi. Melainkan, ia merujuk pada kondisi batiniah yang sudah mencapai kesempurnaan hakikinya, ditunjukkan dengan kondisi ril pemiliknya yang sudah menjadi pemimpin di bidangnya

Para penulis sejati tidak akan menjadikan kekayaan, tahta, dan popularitas sebagai tujuan utama hidup mereka, begitu hemat pikir saya. Kepuasan batiniahlah yang mereka kejar. Keinginan untuk terus menciptakan mahakarya yang berlandaskan esetika dan etika. Diiringi kemauan yang kuat untuk terus menempa diri di saat realitas tidak mendukung, seperti tiada henti menghadapi kegagalan, misalnya. Karena jiwa penulis hidup dari api semangat yang tak akan pernah padam. Dan soal kebutuhan duniawi, itu urusan belakangan (walau meski begitu, yah, tak bisa ditampik juga para penulis perlu mencari sejurus cara untuk menafkahi tubuh mereka dan keluarga mereka).

Dengan demikian, bagaimana pula para penulis bisa mencapai target sebesar itu, bilamana tidak pernah mau belajar? Mahakarya tidak bisa satu malam langsung jadi. Belum lagi, kita belum memvalidasi atau memastukan lebih lanjut, apakah mahakarya kita ternyata sudah dibuat penulis atau pengarang lain. Jika benar sudah terlanjur bangga dan enggan untuk mengembangkan karya lebih lanjut, tak dimungkiri rasa menyesal, malu, dan mencemooh diri akan memburu diri di masa mendatang. Untuk menciptakan mahakarya, perlu rasanya batin terlepas dari segala nafsu, atau istilah mudahnya terlepas  dari kekangan kegelapan yang sejatinya memang akan selalu menyelimuti kalbu manusia tanpa mengenal waktu. Sesudah itu pun, pelakunya perlu dihadapkan langsung dengan berbagai pengalaman empiris. Nah, untuk mempercepat laju itu, sekurang-kurangnya pelakunya perlu membaca berbagai karya penulis lain. Sehingga, pengalaman empirisnya lebih khatam, kaya, dan penuh makna. Mahakarya pun akan tercipta dengan sendirinya, tanpa menafikan jiwa dan semangat penulisnya.   

Tidak, tidak. Tidak perlu menunjukkan betapa giatnya diri membaca buku atau karya tulis kepada khalayak dunia. Percaya atau tidak, pembuktian hanya memuaskan diri di beberapa momen saja, selebihnya hati akan kosong melompong. Rasa-rasanya tidak ada semangat lagi, karena pencapaian atau progres tidak dipantau apalagi dipertanyakan orang lain. Maka, bacalah buku untuk diri sendiri, bukan untuk mendapatkan pengakuan. Toh, kualitas mahakarya merupakan pantulan terbaik dari pengalaman dan pengetahuan penulisnya, termasuk dalam hal ini jumlah dan mutu bacaan penulisnya. Tanpa perlu meminta, pembaca akan menilai ketelatenan penulis dari sini  pengakuan paling tulus tanpa ada rasa terpaksa harus menyenangkan penulisnya.

Marilah kita membaca, membaca, dan membaca. Terus berupaya menciptakan mahakarya tulis terbaik: cerminan diri sebagai sejatinya penulis  yang sudah berhasil memimpin dirinya untuk melambung sejauh ini!

Selasa, 19 April 2022

Anggaplah Menulis Sebagai Pisau, Niscaya Jiwamu Tiada Tumpul

Photo by Kenny Eliason on Unsplash

Sering mendengar pepatah: "Pisau jika tidak diasah akan tumpul"? Agaknya ini tidak hanya berlaku dalam konteks ilmu pengetahuan. Menulis pun juga demikian, kemampuan Anda dalam melakukannya akan terus menurun seiring berjalannya waktu pena membebaskan diri dari genggaman tangan Anda.

Ini sudah saya coba, dan memang benar adanya. Sebuah eksperimen konyol yang dilandasi rasa jenuh dan kemalasan diri. Kedapatan kualitas menulis menurun segitunya? Aih! Tinggal berlindung saja di balik hati, toh, dia kedapatan pernah bergumam, "Sudah bosan saya menulis. Bagaimana jadinya jika beberapa bulan saya tidak rutin menulis lagi?"   

Dan benar saja, setelah berapa bulan lamanya diri ini tidak menyeriusi kepenulisan, kesulitan-kesulitan baru terus bermunculan ke atas permukaan. Seolah-olah menjelma menjadi tembok besar yang kokoh, yang dengan sengaja muncul tepat di hadapan diri ini untuk menghadang perlangkahan. Sebagai sebenar-benarnya bukti — dalam alam berpikir saya — merangkai kata-kata tidak lagi semudah dulu. Bahkan, membuat satu paragraf tidak memiliki ide pokok yang sama dengan paragraf lainnya, menjadi sebuah perkara baru nan pelik. Sungguh, benar-benar memusingkan. Rasa-rasanya otak perlu berlari tujuh keliling untuk dapat mengkhatamkannya.

Andai Anda mau tahu, sesungguhnya ini bukan berangkat dari keresahan batin saja. Pengalaman empiris turut memvalidasi kesimpulan abstrak itu. Dalam beberapa tugas dari pekerjaan —  misalnya — ketika diminta untuk membuat artikel atau caption untuk konten feed Instagram. Dibandingkan hal-hal dahulu, saya lebih sering menemui tembok menyebalkan bernama writer's block itu. Sudah berwasangka baik, barangkali ini disebabkan kelelahan batin saya dalam menjumpai rutinitas yang itu-itu saja. Tapi  entah mengapa  seiring berjalannya waktu, kok, tidak ada perkembangan yang berarti nan signifikan. Sudah membaca puluhan artikel dan berlembar-lembar buku, kok, untuk menelurkan suatu kalimat baru nan estetis tetap saja sulit. Gundah hati ini: apa salah?

Akhirnya, dengan memberanikan diri menengok sosok di masa lalu, saya mendapati bahwasanya ini semua disebabkan dari keengganan saya untuk rutin menulis seperti dulu. Sudah merasa pandai membuat artikel. Sudah merasa tidak perlu mengembangkan diri lagi, karena berpikir memuat artikel kan begitu-begitu aja. Sudah merasa bangga dengan penghargaan-penghargaan kepenulisan di masa lalu. Kalau kata orang-orang: "Terbawa arus romantisme masa lalu".

Sungguh melakukan. Padahal, menulis artikel itu ibarat Anda menciptakan karya-karya seni baru. Selain jiwa yang menjunjung tinggi rasa berseni, dalam menulis diperlukan ketelatenan dan ketekunan tanpa kenal rasa lelah. Karena, bagaimana pula kita mengetahui mana celah-celah dalam tulisan untuk ditingkatkan kualitas estetikanya, sedang di satu sisi kita enggan untuk menempa diri?

Dengan demikian  seharusnya  saya menganggap menulis sebagai pisau. Mempersilakan seisi tubuh ini bertelanjang, lalu membiarkan pepatah: "Menulis ibarat pisau, jika tidak diasah akan tumpul" meresap dalam kepala. Barangkali, dengan ini, saya akan termotivasi lagi untuk rutin menulis. Tak lupa dirundung rasa takut tanpa kenal waktu, karena mengetahui kemampuan menulis akan menghilang jika tidak pernah diasah. Juga, jiwa akan kesulitan mendapatkan singgasana damainya lantaran menghilang dibiarkan mengabu sia-sia.

Senin, 18 April 2022

RESENSI BUKU #3: Kenyataan yang Sering Diabaikan Umat Islam



Judul Buku            : Kebenaran yang Pahit

Penulis                  : Muhammad al-Ghazali

Penerbit                : PT LENTERA BASRITAMA

Tebal Buku            : 194 halaman

Cetakan                : Cetakan pertama, tahun 2002


Sinopsis Buku:

Disadari atau tidak, umat Islam saat ini sedang terjebak di tengah himpitan kepalsuan yang sering kita anggap sebagai kebenaran. Juga, setengah mati dibuat menolak kenyataan sesungguhnya. Semua aspek kehidupan  baik itu ekonomi, sosial, politik, maupun budaya ⁠— tak lengahnya menghipnotis dan memperdaya kita.  

Tipu daya ini secara langsung dan tidak langsung memecah umat Islam menjadi beberapa kubu. Ada mereka yang tetap bersiteguh mematuhi ajaran agama. Ada pula yang tetap terang-terangan memusuhi Islam. Dan di antara kedua kubu ini, ada mereka — sekelompok pengkhianat — yang tidak berani menunjukkan arah gerak ekornya.

Perpecahan ini bukan sekadar konsekuensi logis dari serangan musuh, melainkan merambah luas hingga berpotensi melumpuhkan pilar-pilar Islam di masa mendatang. Menjadi tugas kita bersama untuk mewaspadai hal-hal abu-abu ini, bahkan kalau bisa, turut memerangi dengan kepiawaian dalam berpikir dengan menyandarkan kebenaran pada ajaran Islam.

Isi Resensi:

"Jika agama tidak lagi mempunyai pengaruh dalam menegakkan jiwa dan menenangkan hati, maka manusia akan tetap saling bermusuhan, saling mencaci, dan terpecah belah" (halaman 127).

Muhammad al-Ghazali dalam bukunya ini memaparkan sejumlah masalah dan tantangan besar yang tengah dihadapi umat Islam. Tak disangka, apa yang hingga detik ini kita anggap perkara sederhana nan kecil, ternyata merupakan serangan sistematis dan terselubung yang sudah disusun sedemikian rupa oleh musuh sehingga kita pun hanya menganggapnya sekadar angin berlalu.

Soal kedudukan perempuan, misalnya. Hingga detik ini, sering sampai di telinga kita betapa Islam seolah-olah "membatasi peran dan gerak" perempuan. Padahal, menurut Muhammad al-Ghazali — andai kita mau menengok kembali sejarah — Islam begitu memuliakan dan memberikan penghormatan khusus kepada kaum perempuan. Seperti misalnya, seorang sahabat perempuan baginda Rasulullah SAW bernama Nasibah binti Ka'b diberi julukan Ummu Amarah. Saking mulianya beliau, bahkan seorang Musyrik menggambarkan kegigihan perjuangan Ummu Amarah dengan mengatakan: "Kedudukan Nasibah hari ini lebih baik daripada si anu dan si anu."

Dalam buku ini, ada kisah menarik lainnya yang turut membahas kedudukan dan kemuliaan perempuan. Jadi ceritanya, kantor Muhammad al-Ghazali kedatangan seorang perempuan yang mengeluhkan keterlibatan semua saudara laki-lakinya dalam pekerjaan rumah. Entah karena terbiasa ibu mereka — yang diceritakan sedang sakit — mengurusi semua pekerjaan ataupun faktor lainnya, semua saudara laki-laki si perempuan menolak dan mengatakan: "Kamu adalah seorang perempuan, sehingga hanya kamu yang wajib memikul tugas-tugas rumah ini!" Ketika Muhammad al-Ghazali menitipkan secarik kertas bertuliskan hadis tentang Ummul Mu'minin Sayyidah 'Aisyah kepada perempuan itu, tetiba seseorang lain yang menguping perbincangan menghampiri beliau lantas mengatakan, bukankah perempuan tidak lebih mulia dari laki-laki. Muhammad al-Ghazali pun membalas pertanyaan orang itu dengan mengatakan, bagaimana bisa seperti itu, sementara istri Fir'arun lebih mendapatkan posisi di samping-Nya ketimbang kebanyakan laki-laki saat ini yang belum terjamin berapa berat timbangan takwanya.

Untuk itulah, lewat buku ini Muhammad al-Ghazali menyampaikan betapa pentingnya bagi kita untuk mewaspadai segala macam serangan musuh dengan mengamini kebenaran dan keadilan Islam dalam mempersoalkan kehidupan. Ini bukan berarti fanatisme buta, sekadar memercayai saja tanpa sandaran berpikir dan mencoba untuk membenarkan pandangan meski belum terbukti kebenarannya. Melainkan, mencoba berpikir jernih dengan berlandaskan pada pemahaman kita atas agama —  lebih hati-hati dalam menanggapi wacana baru yang tetiba muncul dengan maksud mempertentangkan Islam tapi sebenarnya tidak logis karena kaum penuntutlah yang berlaku seperti apa yang dituntutnya, bahkan lebih buruk.

Kelebihan Buku:

Muhammad al-Ghazali dengan kepiawaiannya dalam menulis, berhasil menguraikan berbagai masalah umat Islam saat ini, dibalas dengan argumentasi secara logis, disertai pula dengan dalil hadis maupun ayat Al-Qur'an. Benar-benar memberi banyak pengetahuan baru kepada pembaca, bahkan sampai di tahap mengajak berpikir kritis atas hal-hal yang sebelumnya kita anggap wajar saja dan normal.

Kekurangan Buku:

Gaya bahasa buku ini secara tidak langsung mencoba menyempitkan target pembacanya. Dalam arti — gaya bahasa yang terlalu "keras", "tegas", dan "menggurui"  barangkali membuat kelompok pembaca yang baru memelajari Islam merasa tidak nyaman. Sehingga, menurut saya, buku ini lebih cocok dibaca oleh mereka dengan basis masalah yang sama dengan yang dirasakan oleh Muhammad al-Ghazali. 

Minggu, 17 April 2022

RESENSI BUKU #2: Rekam Jejak itu Membuka Mata Kita


Judul Buku                       : Jejak Langkah Pak Harto

Penulis                             : Team Dokumentasi Presiden RI

Penerbit                           : PT CITRA KHARISMA BUNDA

Tebal Buku                       : 317 halaman

Cetakan                           : Cetakan ketiga, tahun 2003

ISBN                                : ISBN 979-8085-02-7


Sinopsis Buku:

Buku ini mencoba merangkum peristiwa-peristiwa yang berkaitan langsung dengan peloporan Orde Baru di Indonesia, dengan menyempitkan pembahasan pada langkah-langkah ril yang diambil Pak Soeharto.


Isi Buku:

Sederhananya — lewat buku ini —  pembaca akan mengetahui mengapa Pak Soeharto mengambil langkah-langkah tertentu secara spesifik di masa lalu. Mengapa harus mengambil langkah tersebut ketimbang opsi langkah lainnya yang barangkali telah tersedia. Mengapa pula harus berupaya teguh mempertahankan kekokohan bangsa dan negara di saat Indonesia sudah meresmikan kemerdekaannya.


Kelebihan:

Buku ini berhasil merangkum langkah-langkah Pak Soeharto secara mendetail, sehingga interpretasi atas keberlangsungan sejarah Orde Baru diserahkan kepada pembaca. Hal ini bisa dilihat dari minimnya opini/pendapat atas suatu peristiwa dalam buku ini. Lebih memberatkan pada pembahasan bagaimana dan mengapa Pak Soeharto mengambil keputusan tertentu.


Kekurangan:

Karena pembahasannya difokuskan pada Pak Soeharto, ada beberapa peristiwa yang meninggalkan sejumlah pertanyaan. Seperti, mengapa tetiba Pak Soekarno diduga terafiliasi dengan kelompok tertentu tanpa ada bukti yang kuat. 

RESENSI BUKU #1: Awas, Serangan Musuh Sudah Ada di Mana-Mana!

 


Judul Buku            : Perang Kebudayaan
Penulis                  : Imam Ali Khamenei
Penerbit                : Penerbit CAHAYA
Tebal Buku            : 338 halaman
Cetakan                : Cetakan pertama, bulan April tahun 2005
ISBN                     : ISBN 979-3259-58-2

Sinopsis Buku:
Selama ini kita beranggapan bahwa perang hanya terjadi dalam bentuk fisik. Padahal, perang juga membidik alam bawah sadar manusia, yang dalam konteks buku ini adalah budaya umat Islam.

Terma 'perang budaya' sendiri tidaklah muncul tanpa sebab. Mengutip langsung dari sisi belakang buku ini, 'perang budaya' adalah serangan halus terhadap unsur kebudayaan lain dalam segi budaya, politik, atau ekonomi. Ini artinya, terma ini muncul karena efek negatif dari praktiknya sudah sangat dirasakan oleh umat Islam, walau sampai saat ini — sayangnya masih sering disangkal. Bahkan, berpotensi besar berlanjut sampai generasi-generasi di masa mendatang, secara tidak sabar mengubah poros peradaban ke Barat.

Isi Resensi:
Pada intinya, buku ini menceritakan kegundahan penulis dalam melihat fenomena akibat perang budaya terhadap kehidupan umat Islam terutama di Iran. Ini bisa dilihat langsung dari bagaimana perempuan saat ini berani meninggalkan hijab demi mewujudkan kata 'kebebasan'. Anak-anak tidak mengenal lagi kata hormat kepada kedua orang tuanya. Juga tindakan-tindakan lain yang 'menafikan' ajaran Islam, namun di saat bersamaan ikut merayakan kemenangan Barat.

Menurut penulisnya langsung, kebobrokan akhlak dan adab ini disebabkan sejumlah faktor, seperti ranah tanggung jawab ulama yang dipisahkan dari urusan politik dalam negeri, usaha terselubung Barat dalam menyebarkan semangat kapitalis dengan menyerang kebudayaan (sastra, budaya, dsb), diskursus tiada henti antara islam vs kebebasan, dan masih banyak perkara lainnya. 

Kelebihan Buku:
Penulis berhasil memaparkan masalah-masalah yang dihadapi umat Islam dalam rangkaian kata yang indah dan seolah-olah 'menyihir'. Dari segi penulisan teknikal, barang tentu buku ini bisa menjadi media pembelajaran tersendiri bagi para pembacanya.

Bicara soal isi sendiri, jelas buku ini memberikan informasi baru yang barangkali luput dari kebanyakan umat Islam (termasuk saya sendiri, in case). Bahwa, apa yang kita anggap lumrah di masa ini ternyata merupakan tanda keberhasilan Barat dalam melumpuhkan pilar-pilar adab dan etika kita.

Kekurangan Buku:
Narasi yang sama disampaikan terus secara berulang-ulang. Andai boleh berkata jujur, ibaratnya pembaca bisa menyelesaikan 338 halaman buku ini cukup dalam 50 halaman saja.  

Selain itu, semua pemaparan dalam buku ini terkesan terlampau subjektif. Hal ini karena hampir semua konklusi dalam buku ini tidak menyertakan data ril atau ilmiah sehingga kesannya menuding pihak Barat disebabkan faktor ketidaksukaan pribadi penulisnya semata. 

Nulis Aja Dulu

Judul tulisan ini berangkat dari keresahan saya dalam menulis, yang terlalu memikirkan bagaimana cara mengolah kata sedemikian rupa, sehingga saya jadi tidak menikmati proses dalam menulis. Bahkan, sampai di tahap saya merasa jenuh menulis, padahal belum memulainya sama sekali. Sungguh, menyiksa batin.

Ingin rasanya menjadi manusia merdeka, sekali lagi dan berkali-kali. Menulis dengan bebas tanpa perlu memikirkan hal-hal yang belum tentu akan terjadi. Merangkai kata-kata karena keinginan, bukan karena keterpaksaan. Sekalipun tidak terlalu mementingkan apakah sudah memenuhi kaidah kepenulisan (sesekali hahaha), biar bisa menikmati hidup secara penuh seluruh!

Berangkat dari blog ini, harapannya saya bisa menembus batas diri lagi. Bisa kembali rutin menulis seperti sediakala. Mencintai menulis sekali lagi dan untuk seterusnya. Semoga :)

Tangerang Selatan, 17 April 2022





4 Tips Mengatur Waktu untuk Menulis

Tidak sedikit dari kita merasa kurangnya waktu untuk menulis. Entah karena faktor padatnya pekerjaan setiap harinya ataupun urusan utama lai...