Minggu, 08 Mei 2022

4 Tips Mengatur Waktu untuk Menulis

Tidak sedikit dari kita merasa kurangnya waktu untuk menulis. Entah karena faktor padatnya pekerjaan setiap harinya ataupun urusan utama lainnya. Pertanyaannya, apakah benar demikian? 

Padahal, jika dipikir baik-baik, setiap dari kita diberikan waktu 24 jam setiap harinya. Meski punya segudang kesibukan, logikanya kita tetap memiliki waktu luang untuk menulis -- apalagi jika menulis dengan gaya freewriting. Mengingat dengan gaya ini setidaknya kita bisa membuat satu tulisan dalam maksimal 1 jam. 

Tidak hanya gaya freewriting, faktor-faktor lainnya turut berpengaruh terhadap produktivitas kita dalam menulis. Penasaran bagaimana cara mengatur waktu untuk menulis? Simak penjelasannya di bawah ini!

1. Temukan waktu terbaik dalam menulis

Setiap orang memiliki waktu terbaiknya dalam menulis. Mungkin saya bisa produktif membuat satu tulisan saat pagi hari sebelum bekerja, namun di kamu kasusnya baru bisa saat malam hari. 

Nah, untuk menemukan waktu terbaik, kamu harus trial dan error dulu di awal. Mulailah dengan membuat to do list harian, dan alokasikan kegiatan menulis pada waktu luangmu, entah pagi atau malam hari. Anggaplah kamu akan punya to do list harian A dan to do list harian B. Yang pertama akan kamu uji coba untuk seminggu pertama. Dan jika tidak berhasil, kamu bisa mencoba to do list harian B untuk periode-periode berikutnya.

2. Tetapkan target menulis

Ini poin terpenting dalam mengelola waktu dalam menulis. Karena, jika tidak ada target bagaimana bisa kita bersemangat untuk menelurkan sejumlah mahakarya? 

Maka itu, buatlah target menulis sedetail mungkin. Berangkatlah dari target jangka panjang dulu baru kemudian dikerucutkan menjadi target jangka pendek. Misal, kamu punya target 100 karya puisimu dimuat di media massa nasional dan lokal dalam jangka 5 tahun ke depan. Itu berarti, setahunnya kamu harus bisa menargetkan 20 karya puisimu berhasil dipublikasikan. Bagi lagi menjadi per bulannya, ada sekitar 2-3 karya puisi yang harus dikejar publikasinya. Dari sini bisa diperkirakan bahwa setidaknya kamu perlu membuat 2 puisi per minggu agar bisa mengejar targetmu itu. 

3. Jauhkan Diri dari Media Sosial

Saat sedang menulis, fokuslah untuk membuat tulisan dari awal sampai selesai. Jauhkan dirimu dari media sosial karena berpotensi mendistraksi perhatianmu. Mengingat kegiatan menulis membutuhkan konsentrasi yang tinggi, dan merangkai kata-kata tidak semudah kelihatannya.

4. Dedikasikan Hidupmu untuk Menulis

Sebagian besar orang sering menganggap tulis-menulis sebagai kegiatan yang remeh-temeh. Padahal, untuk membuat tulisan yang bagus dalam waktu sesingkat mungkin, dibutuhkan jam terbang yang tinggi. Tidak bisa satu dua kali langsung bisa mahir. Harus menulis sesering mungkinagar terbiasa untuk membuat tulisan berkualitas bagus dengan cepat.

Solusinya: dedikasikan hidupmu untuk menulis. Kurangi waktu mengerjakan kegiatan di luar kepenulisan. Karena selain membuyarkan fokus, juga berpotensi mengurangi kesempatan kemampuan kepenulisanmu untuk bertumbuh dengan pesat. Bahkan, jika memungkinkan, alokasikan waktu di weekend atau liburan panjang untuk menulis lebih banyak dari biasanya.

Senin, 25 April 2022

Bedanya Esai Ilmiah dan Esai Populer

bedanya esai ilmiah dan esai populer
Apa bedanya esai ilmiah dan esai populer?

Apa bedanya esai ilmiah dan esai populer?

Kalau ada lomba menulis esai, apakah itu berarti kita diminta untuk mengikutkan naskah esai ilmiah? Atau malah seharusnya esai populer?

Pernahkah kamu bertanya-tanya juga soal esai ilmiah dan esai populer? Dan suka bingung dalam membedakan keduanya? 

Tidak perlu merasa khawatir, perasaanmu lumrah kok. Karena memang harus diakui, kita lebih sering mendengar kata "esai" ketimbang "esai ilmiah" dan "esai populer". Sehingga, begitu mendengar kedua cabang esai tersebut, kita akan merasa bingung dalam mengartikan masing-masing dari mereka.

Meski begitu, kamu tetap harus mengetahui perbedaan antara esai ilmiah dan esai populer, loh. Ini karena ketidaktahuanmu atas hal ini akan berpengaruh terhadap caramu dalam menyajikan naskah esai. Apalagi untuk kepentingan lomba atau mengirimkan naskah ke media massa. Bukannya lolos ke meja juri atau redaktur, yang ada naskahmu sudah dibuang ke tong sampah hanya dalam sekali pandang.

Tentu kamu tidak ingin mengalami hal seperti itu bukan? Maka itu, yuk ketahui bedanya esai ilmiah dan esai populer! Simak penjelasannya di bawah ini, ya!

1. Gaya Bahasa 

Gaya Bahasa Esai Ilmiah dan Esai Populer
Gaya Bahasa Esai Ilmiah dan Esai Populer

Seperti kita ketahui, bedanya esai populer dan esai ilmiah terletak pada terma "populer" dan "ilmiah". Dan ternyata, kedua terma tersebut merujuk pada bagaimana cara kita dalam menyajikan naskah esai, yang dalam hal ini adalah gaya bahasa dalam tulisan.

Untuk esai ilmiah, berarti gaya bahasanya terkesan ilmiah. Ilmiah yang seperti apa? Ilmiah yang mengedepankan argumentasi berbasis fakta dan data. Misal, kamu ingin mengutarakan pendapat tentang evaluasi pendidikan di daerah 3T selama masa pandemi. Barangkali kamu sebelumnya sudah punya pendapat pribadi tentang topik tersebut. Nah, dalam esai ilmiah, pendapatmu sangat harus dikuatkan dengan pendapat tokoh terkait atau data statistik seputar itu.

Beda halnya dengan esai populer. Karena gaya bahasanya populer, maka sesungguhnya tidak akan apa-apa jika kamu tidak memaparkan banyak pendapat tokoh terkait atau data statistik pendukung. Hanya saja, kamu perlu merangkai kata-kata sedemikian rupa sehingga bisa meyakinkan pembaca untuk menyetujui argumentasimu itu.

2. Target Pembaca

Target Pembaca Esai Ilmiah dan Esai Populer
Target Pembaca Esai Ilmiah dan Esai Populer

Balik lagi ke soal terma "ilmiah" dan "populer". Ternyata kedua terma tersebut juga berpengaruh terhadap target pembaca. Pertanyaannya, kok bisa begitu?

Jadi begini ceritanya. Untuk esai ilmiah, karena sifatnya ilmiah, berarti target pembacanya adalah kalangan akademisi. Itu berarti, pemilihan kosakatanya lebih khusus sesuai dengan topik tulisan. Lebih terkesan intelektual.

Adapun esai populer, karena sifatnya populer, maka target pembacanya adalah masyarakat umum. Tidak terbatas pada pembaca yang itu-itu saja. Itu berarti, saat membuat esai populer, kamu harus memilih kosakata yang mudah dipahami pembaca. Lebih membumi.

3. Keterbacaan

Keterbacaan Esai Ilmiah dan Esai Populer
Keterbacaan Esai Ilmiah dan Esai Populer

Apa itu keterbacaan? Menurut hemat pandangan saya, keterbacaan adalah tolak ukur sebuah tulisan dapat dibaca dengan mudah dan cepat oleh pembacanya. Nah, dalam konteks esai, keterbacaan mengharuskan sebuah naskah esai agar dibuat seideal mungkin sehingga bisa sesuai dengan psikologis target pembacanya.

Untuk esai ilmiah, tidak menjadi hal besar ketika kamu membuat satu paragraf memenuhi hampir satu halaman tulisan. Bahkan, tidak masalah pula apabila satu paragraf terdiri dari belasan kalimat. Hal ini dikarenakan target pembacanya adalah kalangan akademisi, yang memang sudah lebih akrab dengan corat-coret ilmiah.

Beda sekali dengan esai populer. Dalam membuat esai satu ini, kamu benar-benar harus memerhatikan jumlah kalimat dalam satu paragraf. Kalau kata kebanyakan penulis esai populer, sebaiknya satu paragraf maksimal terdiri dari 5-6 kalimat. Dan sekurang-kurangnya ada 2 kalimat. 

Kenapa bisa begitu? Karena target pembaca esai populer adalah masyarakat umum. Masyarakat umum lebih akrab membaca lewat handphone, yang memang psikologisnya lebih suka baca tulisan dengan kalimat yang tidak begitu panjang.

4. Judul Tulisan

Judul Tulisan Esai Ilmiah dan Esai Populer
Judul Tulisan Esai Ilmiah dan Esai Populer

Seringkali saya menjumpai judul tulisan pada esai ilmiah dengan menggunakan tanda ":". Mungkin bisa dibilang hampir semuanya? Di mana, semakin detail dan deskriptif judulnya, semakin tinggi pula kemungkinan naskah esai ilmiah tersebut untuk menang.

Sayangnya, judul tulisan seperti ini tidak terlalu berlaku pada esai populer. Ada pun mungkin jumlahnya masih sangat sedikit. Hal ini karena "hukum judul tulisan" pada esai populer berbanding terbalik dengan esai ilmiah. Pada esai populer, semakin sedikit jumlah kata pada judul dan clickbait, maka semakin tinggi pula peluang naskah untuk menang di perlombaan atau hati para juri lomba.

Karena balik lagi: target pembaca esai ilmiah dan esai populer berbeda. Tujuan pembaca esai ilmiah membaca naskahmu adalah untuk kebutuhan penelitian atau minimal menambah gagasan mereka dalam seputar topik yang menjadi minat mereka. Itu makanya judul tulisan dibuat sedetail mungkin. Sementara esai populer, pembacanya adalah masyarakat umum yang kebetulan lewat melihat karya tulismu lewat di depan mata mereka. Bukan membaca karena sudah ada tujuan di awal. Itu makanya judul tulisan yang pendek dan clickbait membuat mereka tertarik untuk membaca tulisan.

5. Penulisan Daftar Pustaka

Seperti sudah disinggung sebelumnya, esai ilmiah mengharuskan penulisnya untuk memaparkan argumentasi berbasis fakta dan data. Itulah sebabnya kamu saat membuat esai ilmiah harus melampirkan daftar pustaka. Sebagai bentuk pertanggungjawaban atas tulisanmu itu.

Esai populer di sisi lain, berisikan pendapat pribadi yang ditambahkan fakta dan data sebagai pendukung, bukan inti tulisan. Karena target pembaca esai populer juga masyarakat umum, untuk penulisan daftar pustaka tidak diwajibkan, bahkan lebih baik tidak ada (untuk tujuan estetika). Jika kamu hendak mengutip pendapat tokoh atau data statistik, cukup disebutkan dalam isi tulisan. Tidak perlu membuat lembar lampiran khusus daftar pustaka.

Itulah beberapa perbedaan antara esai ilmiah dan esai populer. Sebenarnya masih ada beberapa perbedaan lagi di antara kedua jenis esai tersebut. Namun akan saya tambahkan seiring berjalannya waktu dan pertanyaan-pertanyaan yang masuk.

Jika ada pertanyaan terkait esai populer, saya sangat terbuka untuk kesempatan ini. Terima kasih banyak sebelumnya karena sudah membaca tulisan ini. Have a nice day!

Minggu, 24 April 2022

Mengenal Teknik Menulis Amati Tiru Modifikasi (ATM)

teknik menulis ATM
Photo by Green Chameleon on Unsplash

Siapa tidak kenal metode amati, tiru, modifikasi (ATM)? Penggunaannya begitu populer dan nyatanya memang memberi banyak manfaat bagi pelakunya. Meski lebih sering dikaitkan dengan riset bisnis, namun kini metode ATM sudah menjamah dunia kepenulisan, loh. Mungkin tidak sedikit dari kamu akan bertanya, "Kok bisa begitu? Bukannya menulis harusnya melibatkan proses kreatif, ya?"

Coba asumsikan seperti ini: Kamu tidak membiasakan diri untuk menulis setelah membaca buku atau sumber literatur lainnya. Bahkan bisa dibilang hanya menulis beberapa kali dalam sebulan. Saat menulis — bisa ditebak — kamu akan menemukan sejumlah kebuntuan bukan? Mulai dari bagaimana mengolah kosakata hingga mengalami writer's block. Bagi beberapa gelintir penulis profesional saja masalah-masalah tadi sudah lazim, apalagi buat mereka yang tidak rutin menulis.

Nah, metode ATM sekurang-kurangnya dapat membantu penulis mengatasi masalah-masalah lazim itu. Ini karena melalui metode ATM, penulis secara tidak langsung "menyalin" tulisan orang lain untuk dikembangkan menjadi gaya tulisannya sendiri. Bukan berarti plagiasi, melainkan memelajari untung-rugi dari teknik kepenulisan orang lain untuk diri sendiri.

Gagasan akan teknis menulis ATM ini tidak berangkat tanpa sebab kok. Karena sejatinya teknik ini berpangkal pada masing-masing metodenya, yaitu amati, tiru, dan modifikasi. Untuk penjelasan lengkapnya seperti apa, silakan simak tulisan di bawah ini:

1. Amati

teknik menulis amati
Photo by Mario Heller on Unsplash

Ini langkah pertama dan terpenting dari teknik menulis ATM. Karena dari sinilah kamu bisa mendapatkan gambaran akan tulisan yang bagus itu seperti apa. Mulai dari kosakata hingga kerapian tiap paragraf tulisan.

Butuh waktu tidak sedikit untuk melakukannya, minimal 30 menit atau 1 jam per hari dalam melakukannya. Kamu perlu membaca banyak tulisan dari seorang penulis profesional atau sebuah situs kredibel. Tidak membaca secara terburu-buru, tapi dinikmati dengan senang hati. Hal ini supaya ada waktu bagi otakmu dalam merekam tulisan secara utuh dan menyeluruh.  

Sekurang-kurangnya, ada tiga poin yang perlu kamu amati dalam tulisan karya penulis profesional atau sebuah situs kredibel, sebagai berikut:
  • Kesesuaian gaya tulisan dengan branding, apakah pembawaannya humoris, kaku, atau serius. Itu harus diperhatikan dengan cermat.
  • Kosakata unik. Kira-kira adakah kosakata unik dari tulisan tersebut yang belum pernah kamu lihat sebelumnya? Seperti misalnya, novel "Debu Cinta Bertebaran" dengan kosakata 'telinga meruncing'.
  • Cara merangkai paragraf. Perhatikan bagaimana target ATM-mu menempatkan inti pembahasan dalam tiap paragraf. Apakah satu paragraf dengan lainnya ide saling mengalir atau tidak. 

2. Tiru

teknik menulis tiru
Photo by freestocks on Unsplash

Sudah mengamati? Oke, berikutnya tirulah target ATM tulisanmu. Tapi, bukan berarti ditiru mentah-mentah ya, asal copy paste langsung jadi. Melainkan kamu tiru bagaimana target ATM tulisanmu dirangkai sedemikian rupa.

Mudahnya begini. Jika saat menulis kamu menemukan kebuntuan, lihatlah target ATM tulisanmu sebagai sumber inspirasi. Tulis sampai mentok. Buntu lagi. Lihat tetangga lagi. Lakukan seperti itu hingga kamu yakin bisa melakukannya tanpa perlu menengok target ATM tulisan lagi. 

3. Modifikasi 

Intinya, dalam proses meniru tadi, kamu modifikasi sedikit atau kembangkan menjadi gaya tulisanmu sendiri, sesuai apa yang mengendap dalam kepalamu. Dan setelah jadi, tulisan tersebut kamu modifikasi agar sesuai dengan kaidah kepenulisan (KBBI dan PUEBI).

Penutup

Belajar menulis lagi dari awal merupakan hal lumrah, jadi tidak perlu merasa takut apalagi malu. Jika pun benar kamu mengalami kejadian ini, solusi termudahnya adalah menerapkan teknik menulis ATM saat menulis. Amati, tiru, dan modifikasi tulisan penulis profesional atau situs kredibel hingga akhirnya kamu terbiasa, dan bisa melakukannya tanpa menggunakan metode ini lagi.

Semangat belajar menulis, dan selamat mencoba!

Kamis, 21 April 2022

RESENSI BUKU #4: Memahami Makna Cinta Sesungguhnya

Novel Debu Cinta Bertebaran
Novel Debu Cinta Bertebaran | Dok. Pribadi

Judul Buku                : Debu Cinta Berdebaran

Penulis                       : Achdiat K. Mihardja

Penerbit                     : BALAI PUSTAKA

Tebal Buku                : 388 halaman

Cetakan                    : Cetakan pertama, tahun 2004


Sinopsis Buku:

Mengambil latar tahun 1960an, seorang tokoh utama berkewarganeraan Indonesia yang bernama Rivai, dihadapkan dengan gegap gempita dunia dalam menyambut perang dan peradaban baru, yang sekurang-kurangnya menjadi topik berulang-berulang dalam buku ini. Di sini pula, terma cinta dan hubungan seksual terus muncul ke permukaan. Secara tidak terduga-duga mempertemukan Deanne, sang pujaan hatinya, di mana keduanya mencoba memahami makna cinta sesungguhnya, dan meresapinya ke dalam kisah cinta mereka. 

Isi Resensi:

Apa itu cinta? Apakah nafsu keberahian bisa dikatakan sebagai cinta? Apakah makna cinta terlampau abstrak dan luas, sampai-sampai bentuk konkretnya tergantung pada bagaimana pemahaman atas cinta itu sendiri?

Sejatinya, seorang pemuda perantauan Indonesia bernama Rivai, sedang menempuh perjalanan panjang dalam memahami apa arti cinta sesungguhnya. Australia baginya merupakan tempat terbaik bagi pemenuhan rasa keingintahuannya. Bertepatan sekali dengan masa Demokrasi Terpimpin di Indonesia — sekitar tahun 1960an — di mana perdebatan seputar peradaban barat dengan paham modernnya tiada habisnya, Rivai berkesempatan berdiskusi dengan para tokoh  entah itu akademisi, pengamat politik, ataupun sekadar orang awam — mengenai hal-hal itu.

Pertama, pada intinya ideologi suatu negara sangat berpengaruh terhadap progresivitas dan cara berpikir warganya. Ini secara tidak langsung bisa pembaca lihat dari bagaimana teman-teman Rivai menanggapi kebingungan Rivai dengan mengatakan, "Tenang saja! Australia adalah negara demokrasi! Kita sangat menjunjung tinggi kebebasan dan hak asasi individu! Berpendapat dan berideologilah sesuai keyakinan yang kamu percayai!" Meski di sini Rivai tampak mengagumi alam berpikir peradaban modern, namun tidak sepenuhnya ia menyetujuinya, dan di sini pula ia mencapai kedewasaan dan kejernihan dalam bagaimana memandangi beberapa gelintir konflik dan isu. Barangkali pertemuan antara pengalaman kultur Indonesia yang kuat dengan pemahaman akan baratlah yang memperkokoh cara pandang Rivai. Sebagai contoh, menurut Rivai, kebebasan individu tidak selamanya berakhir baik jika tidak dibarengi dengan rasa simpati terhadap kebebasan individu lainnya. Untuk itulah dia kecewa terhadap Janet, seorang sahabatnya yang berkewarganegaraan Australia, dalam upaya membebaskan diri dengan cara mendekati pria-pria lain, tanpa memikirkan perasaan suaminya, Thomas Peter, yang notabenenya seorang dokter ahli jiwa.

Kedua, berkaitan erat dengan inti dari novel ini sendiri, yakni cinta. Di beberapa bab terakhir pembaca akan dihadapkan dengan perdebatan kritis mengenai bagaimana pengaruh peradaban modern terhadap interpretasi cinta berbasis hubungan seksual. Dimulai dari Thomas Peter — suami Janet tadi  bahwa pada intinya hubungan seksual sebatas sport untuk menyalurkan kebutuhan biologis manusia. Jadi, menurutnya, akan sah-sah saja jika seorang individu menjalani hubungan seksual di luar pernikahan, toh pernikahan formal sifatnya hanya membatasi apa itu cinta sendiri. Selama sepasang suami istri benar-benar saling merasakan getaran cinta, asal saling memaklumi masing-masing kebutuhan bercinta, maka tiada cela dalam melakukan hubungan seksual. Untuk menguatkan dalilnya ini, Thomas Peter memaparkan kemajuan peradaban Yunani Kuno, yang membebaskan perseliweran duniawi, sehingga selangkah lebih maju daripada negara-negara lainnya. Pernyataannya pun diperkuat oleh seorang doktor filsuf perempuan, bahwa toh apa yang membatasi perempuan untuk 'mengontrol kegadisannya'  adalah opini-opini liar masyarakat. Sehingga, ketika perempuan menampik gagasan ini, maka sesungguhnya mereka sedang melawan keinginan terpendam mereka.

Bola liar ini pun bergulir ke kutub berlawanan. Seorang pendeta dan kritikus sosial mengecam pendapat Thomas Peter. Pendeta itu beranggapan bahwa cinta sesungguhnya terjalin ketika sepasang laki-laki dan perempuan sudah menikah, dan hubungan seksual dilakukan atas nama cinta kepada Tuhan. Dengan begitu, menurutnya, cinta yang murni tidak mungkin dilakukan serta-merta hanya untuk memenuhi hawa nafsu, melainkan sebagai bentuk pengabdian terhadap peradaban. Sedang kritikus sosial di satu sisi mengatakan bahwa pemikiran Thomas Peter melanggar hak asasi individu lain bahkan berpotensi membahayakan negara. Karena, pertama, seorang individu akan seenaknya melakukan hubungan seksual atas nama nafsu tanpa memikirkan dampak panjang dari perilakunya. Sehingga membuat demografi mengalami pertumbuhan secara signifikan, dan membuat pemerintahan kewalahan dalam mengontrol apalagi menanganinya. Berikutnya, kemajuan peradaban Yuani Kuno yang dibilang Thomas Peter itu tidaklah benar. Karena, peradaban ini terbukti hanya berusia dua abad dan telah membawa Yunani Kuno pada jurang kehancuran.

Terakhir, mengenai kisah cinta antara tokoh utama kita dan pujaan hatinya, Deanne. Pada intinya, beberapa gelintir pertemuan Rivai dengan tokoh-tokoh lainnya turut memperkuat pemahaman Rivai akan apa itu ideologi, cinta, dan demokrasi sehingga berhasil mengantarkan pertemuannya pada Deanne. Seperti pemahaman umum bahwa kecocokan orang bisa dilihat dari interest yang sama, baik Rivai dan Deanne, terus saja kedapatan kesempatan untuk berbicara tentang tiga hal itu secara panjang lebar. Sampai pada titik di mana keduanya akhirnya menyadari telah jatuh cinta satu sama lain, meski bisa dibilang hampir terbilang terlambat, karena telah dipisahkan oleh ruang. Yang satu lagi telah menyerah karena merasa harga dirinya dilukai, memilih untuk menjalani kisah baru tanpa ada kasih di dalamnya. Sedang satunya lagi masih terus berjuang mempertahankan hidupnya agar bisa bertemu lagi dengan sang kekasih.

Kelebihan Buku:

Angkat topi untuk Achdiat K. Mihardja karena berhasil memadukan unsur politik, sosial, dan cinta ke dalam satu kisah panjang nan bermutu. Bukanlah tugas mudah, apalagi disajikan dalam bahasa yang mudah dicerna dan dapat mengajak pembacanya untuk turut berpikir serta tenggelam dalam alam berpikir Rivai dan tokoh-tokoh lainnya.

Begitu banyak nilai kehidupan yang dapat dipetik. Serasa mengikuti kuliah filsafat, politik, dan sosial selama satu semester. Kedapatan juga Achdian K. Mihardja beberapa kali menyelipkan humor yang benar-benar mengundang tawa. Delivery yang sangat apik dan begitu mengalir. Salut!

Kekurangan Buku:

Sungguh disayangkan, di permulaan buku ini sangat sulit dipahami, karena terlalu banyaknya tema atau topik yang diangkat. Oleh sebab itu, sepanjang cerita pembaca, akan kebingungan apa konflik utama dalam buku ini. Meski tidak dapat dimungkiri, di pertengahan cerita mulai memasuki babak-babak yang seru disebabkan konflik antar tokoh dan beberapa gelintir topik perdebatan yang populis.

Rabu, 20 April 2022

Kegiatan Membaca adalah Harga Mati

Kegiatan membaca adalah harga mati bagi para penulis. Barang siapa tidak pernah menyempatkan waktunya untuk menyalin karya tulisan orang lain ke dalam kepalanya, niscaya dirinya tidak akan pernah kaya akan pengalaman, nilai, dan prinsip kehidupan. 

Karena, mau bagaimanapun ceritanya, manusia harus terus belajar dan memperkaya dirinya untuk mencapai hakikat sejatinya, yaitu pemimpin dunia. Di mana makna pemimpin dunia di sini tidak bisa diartikan secara sempit, sekadar mengemban jabatan megah dan membangun pundi-pundi kekayaan pribadi. Melainkan, ia merujuk pada kondisi batiniah yang sudah mencapai kesempurnaan hakikinya, ditunjukkan dengan kondisi ril pemiliknya yang sudah menjadi pemimpin di bidangnya

Para penulis sejati tidak akan menjadikan kekayaan, tahta, dan popularitas sebagai tujuan utama hidup mereka, begitu hemat pikir saya. Kepuasan batiniahlah yang mereka kejar. Keinginan untuk terus menciptakan mahakarya yang berlandaskan esetika dan etika. Diiringi kemauan yang kuat untuk terus menempa diri di saat realitas tidak mendukung, seperti tiada henti menghadapi kegagalan, misalnya. Karena jiwa penulis hidup dari api semangat yang tak akan pernah padam. Dan soal kebutuhan duniawi, itu urusan belakangan (walau meski begitu, yah, tak bisa ditampik juga para penulis perlu mencari sejurus cara untuk menafkahi tubuh mereka dan keluarga mereka).

Dengan demikian, bagaimana pula para penulis bisa mencapai target sebesar itu, bilamana tidak pernah mau belajar? Mahakarya tidak bisa satu malam langsung jadi. Belum lagi, kita belum memvalidasi atau memastukan lebih lanjut, apakah mahakarya kita ternyata sudah dibuat penulis atau pengarang lain. Jika benar sudah terlanjur bangga dan enggan untuk mengembangkan karya lebih lanjut, tak dimungkiri rasa menyesal, malu, dan mencemooh diri akan memburu diri di masa mendatang. Untuk menciptakan mahakarya, perlu rasanya batin terlepas dari segala nafsu, atau istilah mudahnya terlepas  dari kekangan kegelapan yang sejatinya memang akan selalu menyelimuti kalbu manusia tanpa mengenal waktu. Sesudah itu pun, pelakunya perlu dihadapkan langsung dengan berbagai pengalaman empiris. Nah, untuk mempercepat laju itu, sekurang-kurangnya pelakunya perlu membaca berbagai karya penulis lain. Sehingga, pengalaman empirisnya lebih khatam, kaya, dan penuh makna. Mahakarya pun akan tercipta dengan sendirinya, tanpa menafikan jiwa dan semangat penulisnya.   

Tidak, tidak. Tidak perlu menunjukkan betapa giatnya diri membaca buku atau karya tulis kepada khalayak dunia. Percaya atau tidak, pembuktian hanya memuaskan diri di beberapa momen saja, selebihnya hati akan kosong melompong. Rasa-rasanya tidak ada semangat lagi, karena pencapaian atau progres tidak dipantau apalagi dipertanyakan orang lain. Maka, bacalah buku untuk diri sendiri, bukan untuk mendapatkan pengakuan. Toh, kualitas mahakarya merupakan pantulan terbaik dari pengalaman dan pengetahuan penulisnya, termasuk dalam hal ini jumlah dan mutu bacaan penulisnya. Tanpa perlu meminta, pembaca akan menilai ketelatenan penulis dari sini  pengakuan paling tulus tanpa ada rasa terpaksa harus menyenangkan penulisnya.

Marilah kita membaca, membaca, dan membaca. Terus berupaya menciptakan mahakarya tulis terbaik: cerminan diri sebagai sejatinya penulis  yang sudah berhasil memimpin dirinya untuk melambung sejauh ini!

4 Tips Mengatur Waktu untuk Menulis

Tidak sedikit dari kita merasa kurangnya waktu untuk menulis. Entah karena faktor padatnya pekerjaan setiap harinya ataupun urusan utama lai...