Selasa, 19 April 2022

Anggaplah Menulis Sebagai Pisau, Niscaya Jiwamu Tiada Tumpul

Photo by Kenny Eliason on Unsplash

Sering mendengar pepatah: "Pisau jika tidak diasah akan tumpul"? Agaknya ini tidak hanya berlaku dalam konteks ilmu pengetahuan. Menulis pun juga demikian, kemampuan Anda dalam melakukannya akan terus menurun seiring berjalannya waktu pena membebaskan diri dari genggaman tangan Anda.

Ini sudah saya coba, dan memang benar adanya. Sebuah eksperimen konyol yang dilandasi rasa jenuh dan kemalasan diri. Kedapatan kualitas menulis menurun segitunya? Aih! Tinggal berlindung saja di balik hati, toh, dia kedapatan pernah bergumam, "Sudah bosan saya menulis. Bagaimana jadinya jika beberapa bulan saya tidak rutin menulis lagi?"   

Dan benar saja, setelah berapa bulan lamanya diri ini tidak menyeriusi kepenulisan, kesulitan-kesulitan baru terus bermunculan ke atas permukaan. Seolah-olah menjelma menjadi tembok besar yang kokoh, yang dengan sengaja muncul tepat di hadapan diri ini untuk menghadang perlangkahan. Sebagai sebenar-benarnya bukti — dalam alam berpikir saya — merangkai kata-kata tidak lagi semudah dulu. Bahkan, membuat satu paragraf tidak memiliki ide pokok yang sama dengan paragraf lainnya, menjadi sebuah perkara baru nan pelik. Sungguh, benar-benar memusingkan. Rasa-rasanya otak perlu berlari tujuh keliling untuk dapat mengkhatamkannya.

Andai Anda mau tahu, sesungguhnya ini bukan berangkat dari keresahan batin saja. Pengalaman empiris turut memvalidasi kesimpulan abstrak itu. Dalam beberapa tugas dari pekerjaan —  misalnya — ketika diminta untuk membuat artikel atau caption untuk konten feed Instagram. Dibandingkan hal-hal dahulu, saya lebih sering menemui tembok menyebalkan bernama writer's block itu. Sudah berwasangka baik, barangkali ini disebabkan kelelahan batin saya dalam menjumpai rutinitas yang itu-itu saja. Tapi  entah mengapa  seiring berjalannya waktu, kok, tidak ada perkembangan yang berarti nan signifikan. Sudah membaca puluhan artikel dan berlembar-lembar buku, kok, untuk menelurkan suatu kalimat baru nan estetis tetap saja sulit. Gundah hati ini: apa salah?

Akhirnya, dengan memberanikan diri menengok sosok di masa lalu, saya mendapati bahwasanya ini semua disebabkan dari keengganan saya untuk rutin menulis seperti dulu. Sudah merasa pandai membuat artikel. Sudah merasa tidak perlu mengembangkan diri lagi, karena berpikir memuat artikel kan begitu-begitu aja. Sudah merasa bangga dengan penghargaan-penghargaan kepenulisan di masa lalu. Kalau kata orang-orang: "Terbawa arus romantisme masa lalu".

Sungguh melakukan. Padahal, menulis artikel itu ibarat Anda menciptakan karya-karya seni baru. Selain jiwa yang menjunjung tinggi rasa berseni, dalam menulis diperlukan ketelatenan dan ketekunan tanpa kenal rasa lelah. Karena, bagaimana pula kita mengetahui mana celah-celah dalam tulisan untuk ditingkatkan kualitas estetikanya, sedang di satu sisi kita enggan untuk menempa diri?

Dengan demikian  seharusnya  saya menganggap menulis sebagai pisau. Mempersilakan seisi tubuh ini bertelanjang, lalu membiarkan pepatah: "Menulis ibarat pisau, jika tidak diasah akan tumpul" meresap dalam kepala. Barangkali, dengan ini, saya akan termotivasi lagi untuk rutin menulis. Tak lupa dirundung rasa takut tanpa kenal waktu, karena mengetahui kemampuan menulis akan menghilang jika tidak pernah diasah. Juga, jiwa akan kesulitan mendapatkan singgasana damainya lantaran menghilang dibiarkan mengabu sia-sia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

4 Tips Mengatur Waktu untuk Menulis

Tidak sedikit dari kita merasa kurangnya waktu untuk menulis. Entah karena faktor padatnya pekerjaan setiap harinya ataupun urusan utama lai...