Judul Buku : Kebenaran yang Pahit
Penulis : Muhammad al-Ghazali
Penerbit : PT LENTERA BASRITAMA
Tebal Buku : 194 halaman
Cetakan : Cetakan pertama, tahun 2002
Sinopsis Buku:
Disadari atau tidak, umat Islam saat ini sedang terjebak di tengah himpitan kepalsuan yang sering kita anggap sebagai kebenaran. Juga, setengah mati dibuat menolak kenyataan sesungguhnya. Semua aspek kehidupan — baik itu ekonomi, sosial, politik, maupun budaya — tak lengahnya menghipnotis dan memperdaya kita.
Tipu daya ini secara langsung dan tidak langsung memecah umat Islam menjadi beberapa kubu. Ada mereka yang tetap bersiteguh mematuhi ajaran agama. Ada pula yang tetap terang-terangan memusuhi Islam. Dan di antara kedua kubu ini, ada mereka — sekelompok pengkhianat — yang tidak berani menunjukkan arah gerak ekornya.
Perpecahan ini bukan sekadar konsekuensi logis dari serangan musuh, melainkan merambah luas hingga berpotensi melumpuhkan pilar-pilar Islam di masa mendatang. Menjadi tugas kita bersama untuk mewaspadai hal-hal abu-abu ini, bahkan kalau bisa, turut memerangi dengan kepiawaian dalam berpikir dengan menyandarkan kebenaran pada ajaran Islam.
Isi Resensi:
"Jika agama tidak lagi mempunyai pengaruh dalam menegakkan jiwa dan menenangkan hati, maka manusia akan tetap saling bermusuhan, saling mencaci, dan terpecah belah" (halaman 127).
Muhammad al-Ghazali dalam bukunya ini memaparkan sejumlah masalah dan tantangan besar yang tengah dihadapi umat Islam. Tak disangka, apa yang hingga detik ini kita anggap perkara sederhana nan kecil, ternyata merupakan serangan sistematis dan terselubung yang sudah disusun sedemikian rupa oleh musuh sehingga kita pun hanya menganggapnya sekadar angin berlalu.
Soal kedudukan perempuan, misalnya. Hingga detik ini, sering sampai di telinga kita betapa Islam seolah-olah "membatasi peran dan gerak" perempuan. Padahal, menurut Muhammad al-Ghazali — andai kita mau menengok kembali sejarah — Islam begitu memuliakan dan memberikan penghormatan khusus kepada kaum perempuan. Seperti misalnya, seorang sahabat perempuan baginda Rasulullah SAW bernama Nasibah binti Ka'b diberi julukan Ummu Amarah. Saking mulianya beliau, bahkan seorang Musyrik menggambarkan kegigihan perjuangan Ummu Amarah dengan mengatakan: "Kedudukan Nasibah hari ini lebih baik daripada si anu dan si anu."
Dalam buku ini, ada kisah menarik lainnya yang turut membahas kedudukan dan kemuliaan perempuan. Jadi ceritanya, kantor Muhammad al-Ghazali kedatangan seorang perempuan yang mengeluhkan keterlibatan semua saudara laki-lakinya dalam pekerjaan rumah. Entah karena terbiasa ibu mereka — yang diceritakan sedang sakit — mengurusi semua pekerjaan ataupun faktor lainnya, semua saudara laki-laki si perempuan menolak dan mengatakan: "Kamu adalah seorang perempuan, sehingga hanya kamu yang wajib memikul tugas-tugas rumah ini!" Ketika Muhammad al-Ghazali menitipkan secarik kertas bertuliskan hadis tentang Ummul Mu'minin Sayyidah 'Aisyah kepada perempuan itu, tetiba seseorang lain yang menguping perbincangan menghampiri beliau lantas mengatakan, bukankah perempuan tidak lebih mulia dari laki-laki. Muhammad al-Ghazali pun membalas pertanyaan orang itu dengan mengatakan, bagaimana bisa seperti itu, sementara istri Fir'arun lebih mendapatkan posisi di samping-Nya ketimbang kebanyakan laki-laki saat ini yang belum terjamin berapa berat timbangan takwanya.
Untuk itulah, lewat buku ini Muhammad al-Ghazali menyampaikan betapa pentingnya bagi kita untuk mewaspadai segala macam serangan musuh dengan mengamini kebenaran dan keadilan Islam dalam mempersoalkan kehidupan. Ini bukan berarti fanatisme buta, sekadar memercayai saja tanpa sandaran berpikir dan mencoba untuk membenarkan pandangan meski belum terbukti kebenarannya. Melainkan, mencoba berpikir jernih dengan berlandaskan pada pemahaman kita atas agama — lebih hati-hati dalam menanggapi wacana baru yang tetiba muncul dengan maksud mempertentangkan Islam tapi sebenarnya tidak logis karena kaum penuntutlah yang berlaku seperti apa yang dituntutnya, bahkan lebih buruk.
Kelebihan Buku:
Muhammad al-Ghazali dengan kepiawaiannya dalam menulis, berhasil menguraikan berbagai masalah umat Islam saat ini, dibalas dengan argumentasi secara logis, disertai pula dengan dalil hadis maupun ayat Al-Qur'an. Benar-benar memberi banyak pengetahuan baru kepada pembaca, bahkan sampai di tahap mengajak berpikir kritis atas hal-hal yang sebelumnya kita anggap wajar saja dan normal.
Kekurangan Buku:
Gaya bahasa buku ini secara tidak langsung mencoba menyempitkan target pembacanya. Dalam arti — gaya bahasa yang terlalu "keras", "tegas", dan "menggurui" — barangkali membuat kelompok pembaca yang baru memelajari Islam merasa tidak nyaman. Sehingga, menurut saya, buku ini lebih cocok dibaca oleh mereka dengan basis masalah yang sama dengan yang dirasakan oleh Muhammad al-Ghazali.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar